Di Indonesia kedatangan agama tradisional Konghucu diperkirakan sejak zaman akhir prasejarah dengan ditemukannya benda prasejarah seperti kapak, sepatu yang terdapat di Indonesia dan Nusantara, yang tidak terdapat di India atau Asia kecil. Hal ini menunjukkan telah terjadi hubungan antara kerajaan-kerajaan yang terdapat di daratan Tiongkok dengan Nusantara. Hubungan tersebut sedemikian mendalam sehingga terjadilah proses pertukaran nilai ekonomi, sosio cultural (budaya) dan keagamaan secara serentak dan wajar menjadi bagian lokal Indonesia dengan kekhasan adat budayanya nan eksotis serta partikularisme nan indah permai merupakan lahan kajian lintas budaya yang sangat terbatas penelitiannya hingga saat ini.
Sedangkan dugaan agama Buddha yang mula-mula datang ke Nusantara adalah agama Hinayana, dibawa oleh Gunawarman seorang Raja dari Kashmir sekitar 320 m. Selain mengunjungi Nusantara, dia juga mengunjungi daratan Tingkok ; Apabila dugaan ini dapat dipertanggung jawabkan maka dapat pula disimpulkan bahwa agama Buddha dari aliran Sarvativada yang mula-mula berkembang di Nusantara. Selama kurang lebih tiga abad selanjutnya agama Buddha Hinayana berkembang berdampingan dengan agama Brahmana; kemudian dalam abad ke tujuh menyusul Buddha Mahayana yang dibawa oleh Dharmapala. Pemahaman mendalam keberagamaan Konghucu dan Buddha dengan visi budaya leluhur Warga Indonesia Tionghoa diapresiasi dalam buku ini merupakan esais fotografi dan uraian singkat kajian Budaya Leluhur-leluhur dari masa ke masa, menjadi sebuah proyek besar yang telah berhasil dibukukan dan diterbitkan menjadi Buku berjudul KELENTENG-KELENTENG Kuno di Indonesia.
Data Buku Judul Buku : KELENTENG-KELENTENG Kuno di Indonesia.
Penulis : ASTI KLEINSTEUBER dan SYAFRI M. MAHARADJO.
Penerbit : GENTA KREASI NUSANTARA.
Cetakan : Cetakan Pertama, 2000.
Tebal : 1 X + 420 Halaman.
ISBN : 978-979-17057-6-9.
Dalam buku ini endapan pemikiran Penulis dengan cara menampilkan bangunan-bangunan dan fitur KELENTENG tua telah lama eksis di Nusantara, bahkan beberapa bangunan dan arsitektur KELENTENG kuno merupakan buah perkawinan kebudayaan Tionghoa, kebudayaan Islam dengan kebudayaan Indonesia atau kebudayaan lokal yang sangat luar biasa dan tersebar di seluruh Indonesia, KELENTENG-KELENTENG kuno merupakan salah satu bukti sejarah bahwa Konghucu dan Buddha telah berkembang dan berkiprah dalam pembangunan fisik, di samping pembangunan rohani sejak masuknya ke Nusantara ratusan tahun yang lalu
1. KELENTENG TIAN HOU GONG TAMBORA ;
2. KELENTENG SIN TEK BIO (VIHARA DHARMA JAYA) ;
3. KELENTENG LIE TIE GUAI ;
4. KELENTENG TOA SE BIO (DA SHI MIAO/VIHARA DHARMA JAYA) ;
5. KELENTENG HAN THIAN SIANG TEE ;
6. KELENTENG YOU MIE HANG (VIHARA PADILAPA) ;
7. KELENTENG DJIN DE YUAN, Jakarta
terletak di Jalan Kemenangan III Nomor 13 Jakarta dibangun tahun 1650 oleh Letnan QUO XU GUAN dan diselesaikan pada tahun 1669 oleh Kapten GUO JUN GUAN ;
8. KELENTENG DA BO GONG, Jakarta terletak di Jalan ANCOL dibangun tahun 1650, dalam bangunan KELENTENG ada pemujaan terhadap SAM PO SOE SOE dan Istrinya Ibu SITIWATI, dengan demikian terjadi asimilasi antara Tionghoa dan dengan penduduk lokal ;
9. KELENTENG LU PAN BIO, Jakarta terletak di Jalan Pinangsia I Nomor 47 Glodok. Dibangun tahun 1842 oleh orang-orang pertukangan perantauan dari Tiongkok.
II. KELENTENG PROVINSI BANTEN :
10. KELENTENG BUN SAN BIO, Tangerang ;
11. KELENTENG BUN HAY BIO, Serpong ;
12. VIHARA AVALOKITESVARA, Rangkas Bitung ;
13. KELENTENG KWAN YIN BIO, Banten ;
14. KELENTENG EMAERIWIYAT, Banten ;
15. KELENTENG TJONG TEK BIO, Banten ;
16. KELENTENG BOEN TEK BIO, Tangerang, diperkirakan berdiri tahun 1750 ;
17. KELENTENG TJO SOE KONG, Tangerang,






DISTRIBUTOR ATAP ZINC-ALLUMINIUM 
021-33-55-13-77 // 021-999-62-980
Reply With Quote




Bookmarks