Kota Bagansiapi-api dalam sejarah dunia dikenal Kota Nelayan dan terkenal sebagai pusat Industri Perikanan nomor 2 di dunia Internasional, kini nyaris terlupakan. Baganiapi-api terletak di Kabupaten Rokan Hilir, dahulu Kabupaten Bengkalis, Propinsi Riau, di mulut muara sungai Rokan, Pesisir Timur Pulau Sumatera, menghadap Selat Malaka. Berdasarkan catatan sejarah ekspor hasil ikan laut dan hasil laut lainnya dari Bagansiapi-api mencapai 60 % dari seluruh ekspor Indonesia berupa ikan segar, ikan kering, udang kering dan hasil laut lainnya seperti terasi, pupuk dari bahan ikan, kemudian penghasil ikan laut lainnya yang cukup besar disusul oleh nelayan di laut Jawa Tengah dan Makasar. Peran Pelabuhan Bagansiapi-api dalam mengembangkan potensi perikanan menjadi Ikon Industri Perikanan Dunia dalam sejarah, bahkan menjadi faktor penentu perekonomian dunia Perikanan Internasional.

Posisi letak Bagansiapi-api yang strategis karenanya dapat dicapai dari segala arah sebagai bagian dari Propinsi Riau – Sumatera, sebelah utara dibatasi Selat Malaka dan Singapura, sebelah selatan Propinsi Jambi, sebelah barat Propinsi Sumatera Barat dan Sumatera Utara, dan sebelah timur oleh laut Tiongkok Selatan. Kebanyakan orang Indonesia Tionghoa tinggal di kota Bagansiapi-api, sedangkan sebagian lainnya orang Melayu, Padang, Tapanuli dan lain-lain tinggal di pinggiran Kota Bagansiapi-api.


Dari Kota Pekanbaru menggunakan jalur darat ke Bagansiapi-api diperlukan waktu 5 jam sampai 6 jam, sedangkan dari arah Kota Dumai dan Duri menuju Bagansiapi-api melalui jalur darat diperlukan waktu 2 jam atau 3 jam, bila dari Pelabuhan Bagansiapi-api ke Singapura atau Malaysia yaitu Malaka dan Kuala Lumpur menggunakan jalur laut kurang lebih 3 jam sampai 4 jam.

Adapun orang Tionghoa di Bagansiapi-api yang 60 % orang Tionghoa Peranakan Indonesia, dan yang 10 % orang Tionghoa Totok (Singkek) ; Mayoritas orang Indonesia Tionghoa Bagansiapi-api memiliki mata pencaharian utama sebagai nelayan, ada yang menjadi petani dan pedagang ; sedangkan kelompok etnis lainnya sebagai petani. Mayoritas orang Indonesia Tionghoa Bagansiapi-api menjadi nelayan disebabkan latar belakang sejarah kehadiran mereka yang berasal dari Tionghoa Selatan, wilayah provinsi Fujian (Hokkian) bermukim di Bagansiapi-api sejak abad ke 18, dan secara kebetulan keahlian Nelayan mereka sangat cocok dengan kondisi alam Riau tak lepas dari kehidupan melaut, hal ini sesuai dengan kehidupan mereka akrab dengan laut. Sedangkan pertanian sangat terbatas karena tanahnya yang asam sangat sulit di olah untuk keperluan budidaya sektor pertanian, ditambah dengan kondisi teknik pertanian yang tidak efisien dan tertinggal.


POSISI NELAYAN MENGALAMI KEMUNDURAN

Hidup Peranakan Indonesia Tionghoa Bagansiapi-api dari pekerjaan sebagai nelayan bukanlah pekerjaan yang ringan, karena kebanyakan mereka harus hidup berbulan-bulan melaut atau hidup di atas jelmar yaitu tempat penangkapan ikan yang terletak beberapa kilometer dari pantai atau laut, yang luar biasa jelmar nelayan Bagansiapi-api dibuat dari kayu bakau yang tahan air laut bukan dari besi seperti saat ini.

Pada pertengahan abad 18 dan awal abad 19 di Selat Malaka dan sungai Rokan banyak sekali ikannya, pada zaman itu orang Indonesia Tionghoa menggunakan cara penangkapan ikannya masih sederhana, kurang jauh dari laut dan kurang dalam menjatuhkan/memasang jalanya. Penangkapan ikan menjadi mata pencaharian pokok di Bagansiapi-api. Mereka secara swadaya dan mandiri menyiapkan kapal, layar, jala dan benang serta penerangan di laut tanpa bantuan Pemerintah atau jawatan perikanan laut pada masa itu.

Hasil ikan dari penangkapan nelayan Indonesia Tionghoa Bagansiapi-api menjadi penangkapan ikan yang terbesar seluruh Indonesia dan bahkan nomor dua di dunia. Namun dari waktu ke waktu hasil perikanan semakin merosot, sekalipun laut Indonesia banyak ikannya, tetapi hasil tiap tahun semakin turun berhubung dengan alat penangkapan ikan telah kalah kompetitif, kecakapan dan keahlian nelayan pun tertinggal oleh arus globalisasi menjadi faktor pendukung kekalahan kompetisi dan terakhir pencurian ikan semakin marak oleh Negara Tetangga atau Mancanegara lainnya. Boleh dikategorikan posisi nelayan Bagansiapi-api semakin tertinggal, terisolasi dan kalah dengan kelompok pemodal mancanegara. Sekalipun usaha penangkapan ikan telah dijalankan secara turun temurun, ternyata sebagian besar nelayan telah terpinggirkan arus modernisasi perikanan, bahkan posisi miskin telah menempatkan mereka tidak berdaya. Namun pada masa itu tanah Jawa masih mendatangkan ikan kering, ikan asin dan terasi dari Bagansiapi-api.

Peta situasi dan kondisi Kota Bagansiapi-api harus ditempuh melalui jalur laut atau sungai dengan menggunakan perahu kecil atau kapal tongkang atau kapal penumpang ke pelabuhan Bagansiapi-api, di masa itu belum dibuka jalur darat, yang ada pada masa itu jalur laut dan sungai sebagai alur yang dapat keluar dan masuk dari Kota Bagansiapi-api, setiap kapal atau perahu sangat hiruk pikuk berlabuh dan melalui Pelabuhan Bagan untuk bongkar muat barang-barang impor dan ekspor.

Di sepanjang pesisir dan jalan-jalan umum Bagansiapi-api dibangun rumah di atas panggung sebagai ciri khas, untuk menghindari aliran banjir air laut dan sungai maka rumah dan bangunan yang berada di dalam kota atau di tepi sungai atau pinggir laut setiap rumah dan bangunan dibangun di atas tiang yang lebih tinggi. Di daerah-daerah sungai sepanjang sungai Siak dan Rokan juga dibangun rumah rakit atau rumah di atas rakit. Selain sebagai rumah tinggal, rumah panggung dan rumah rakit juga berfungsi sebagai warung.

Untuk kepentingan perniagaan dan lalu lintas kepulauan Bagansiapi-api dan sekitarnya menggunakan perahu atau kapal penumpang atau tongkang yang dibuat dari kayu oleh galangan kapal kayu milik pengusaha Indonesia Tionghoa Bagansiapi-api telah terkenal pembuat kapal kayu tongkang atau kapal penumpang atau kapal Ikan bagi usaha perikanan tangkap dan perahu dengan berbagai ukuran, dimulai dari ukuran 100 ton sampai dengan ukuran 1500 ton yang pada umumnya pemesan dan pembeli baik warga Negara Indonesia maupun luar negeri. Sejarah kepeloporan nelayan dan pembuat kapal kayu Indonesia Tionghoa Bagansiapi-api mempunyai catatan sejarah panjang ; yang pada awalnya tatanan sederhana pembuat perahu, penangkap ikan dan penghuni Pulau Bagansiapi-api yang terpencil, memulai hidupnya dengan tatanan pra kapitalis, sederhana dalam struktur dan dengan kultur pembuatan kapal turun temurun mereka mampu menciptakan Pelabuhan Bagansiapi-api menjadi serbuan pelayaran kapal-kapal Internasional dan menjadi pusat perdagangan ekspor dan impor serta pusat Industri Perikanan Kedua di dunia.

Pada abad 18 dan awal abad 19 Pelabuhan Bagansiapi-api terbuka bagi lalu lintas pelayaran kapal-kapal Nasional dan Internasional sehingga menjadi tempat persinggahan, bongkar muat, ekspor impor dan menjadi jalur pelayaran perdagangan Internasional telah menjadikan Pelabuhan Bagansiapi-api sebagai kawasan yang tersibuk di asia dan dunia, lalu lintas kapal sangat ramai dan penuh hiruk pikuk di laut Selat Malaka, sepanjang sungai Rokan dan Siak, kapal-kapal tersebut diselenggarakan oleh maskapai Belanda dan Indonesia Tionghoa. Sepanjang waktu secara simultan kapal-kapal berlabuh di Pelabuhan Bagansiapi-api, untuk lalu lintas di laut peran pelabuhan-pelabuhan itu penting. Di Indonesia ada pelabuhan buatan yang bagus seperti Tanjung Priok, Tanjung Perak dan Belawan. Dan ada Pelabuhan-pelabuhan Alam yang indah seperti Sabang, Cilacap, Makasar dan Dumai. Teluk bayur termasuk pelabuhan alam yang diperlengkapi. Pada pelabuhan-pelabuhan yang lain kapal-kapal berlabuh jauh dari pangkalan misalnya Pelabuhan Semarang, Tegal, Cirebon, Menado dan Buleleng.
[spoiler]
Sorry, please register/login first to see this image
[spoiler]


PELABUHAN TERBESAR YANG TERTINGGAL AKIBAT MODERNISASI

Perkembangan Bagansiapi-api sebelum Perang Dunia II dikenal sebagai Pelabuhan Nelayan terbesar di seluruh Indonesia, Asia dan terbesar kedua di dunia setelah Kota Bergen di Norwegia. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa penduduk Bagansiapi-api mayoritas adalah orang Indonesia Tionghoa dan peranakan. Mereka hidup menetap dan terisolasi semenjak ratusan tahun. Banyak tidak mengingat lagi sudah berapa generasi yang menetap di Bagansiapi-api selama beberapa keturunan. Bahasa Hokkian yang digunakan juga sudah ketinggalan dan tidak berkembang seperti Hokkian yang digunakan di Propinsi Hokkian (Fujian) Tiongkok. Leluhur mereka yang datang dan menetap di Bagansiapi-api telah berhasil membangun Kota Bagansiapi-api sebagai kota mandiri yang dibanggakan di masa kolonial oleh Penjajah Belanda sebagai Kota Industri Perikanan Internasional terbesar kedua di dunia.

Setelah kemerdekaan dan menjelang berakhirnya orde lama dalam kurun waktu relatif singkat kejayaan Pelabuhan Bagansiapi-api sudah mulai mengalami proses kemunduran sebagai Kota Perikanan. Pelabuhannya menjadi Ikon Dunia Perikanan Internasional karena berada di sebelah Utara dibatasi Selat Malaka dan sebelah Timur dibatasi Laut Tiongkok Selatan; Masa kejayaan berakhir sejak tahun 1970-an yang diakibatkan oleh sungai mulai dangkal dan kering serta saat ini sebagian besar sungai telah menjadi daratan, saat ini dapat diketahui kapal-kapal pantai atau kapal-kapal tongkang lewat pada saat air pasang naikpun sudah tidak dapat merapat atau berlabuh, kapal-kapal pun mesti dipandu, sebabnya lokasi pelabuhan di Muara sungai itu mengalami pendangkalan sehingga kapal sulit merapat.