+ Reply to Thread
Results 1 to 4 of 4

Thread: Jejak Saudara dari Daratan..sejarah yg tak terhapuskan.

  1. #1
    Tamu Mampir
    Reputation

    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    82
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    437.1
    Level
    7
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    55.63%
    Weekly Activity
    3.02%
    Rep Power
    2

    Jejak Saudara dari Daratan..sejarah yg tak terhapuskan.

    Diarsipkan di bawah: Umum & Lain-lain ." April 2010 lalu pemerintah Indonesia dan RRC merayakan 60 tahun hubungan diplomatiknya. Hubungan kedua negara sempat putus ketika rezim Orde Baru berkuasa di Indonesia. Tali persahabatan baru terjalin lagi pada Agustus 1990. Semakin diperkuat lagi saat Gus Dur menjadi Presiden. Meskipun demikian, masyarakat kedua belah pihak telah berinteraksi jauh sebelum kedua negara berdiri pasca-Perang Dunia Kedua. Pada abad ke-4 Masehi Fa Hien, pendeta Budha Tionghoa, telah mengunjungi Jawa dalam perjalanannya ke India. “Ia tinggal di Jawa sekitar lima bulan, dari Desember 412 sampai Mei 413,” tulis Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya: Bagian II, Jaringan Asia. Catatan perjalanannya itu ia tuangkan ke dalam naskah yang berjudul Fahueki. Selain Fa Hien, bukti dari keramik-keramik Tiongkok yang ditemukan di Jawa juga menunjukkan kesamaan waktu dengan teks-teks antara abad kelima dan keduabelas Masehi. Setelah Fa Hien, banyak pendeta Tionghoa lain yang mengikuti jejaknya. Sun Yun, Hwui Ning, dan I Tsing merupakan tiga di antaranya. I Tsing malah 14 tahun menetap di Sriwijaya. Pengalamannya itu ia catat ke dalam Nan Hai Chi Kuei Fa Ch’uan dan Ta T’ang Si Yu Ku Fa Kao Seng Ch’uan. “Hingga abad ketujuh hanya pendeta Buddha Tionghoa yang melakukan perjalanan ke India yang mengunjungi Sriwijaya,” tulis Benny G. Setiono dalam Tionghoa Dalam Pusaran Politik. Dalam perkembangan selanjutnya, kian banyak orang Tionghoa datang ke Nusantara. Mereka lebih memilih jalur laut lantaran jalur darat kian sulit dilalui. “Menurut catatan yang ada, orang-orang Tionghoa mulai berdatangan ke Nusantara pada abad kesembilan, yaitu pada zaman Dinasti Tang, untuk berdagang dan mencari kehidupan baru,” tulis Benny. Barang dagangan mereka terutama sutra, batu permata, dan guci. Sebaliknya, mereka sangat membutuhkan beragam komoditas yang ada di Jawa seperti rempah-rempah, katun, hasil pertanian, buah-buahan, dan sebagainya. “Para pedagang Cina,” demikian Dennys Lombard, “membuat keuntungan yang sedemikian besarnya hingga kepeng Cina dari tembaga mereka selundupkan keluar untuk menukarnya di Jawa dengan lada.” Pulau Jawa yang kaya telah menarik banyak pihak untuk mendatanginya. Itu pula yang menyebabkan aturan perdagangan resmi kerajaan Tiongkok dilanggar, yakni tentang pelarangan ekspor kepeng Cina tembaga dalam jumlah besar. “Jawa mempunyai reputasi yang agaknya beralasan sebagai negeri penampung kekayaan uang, ‘negeri penyedot’, yang dalam abad-abad sebelumnya telah menghimpun harta kekayaan besar,” tulis Lombard. Banyak perantau Tionghoa menetap di berbagai wilayah Nusantara, terutama di Jawa. Tidak sedikit pula mereka yang kemudian menikahi penduduk setempat dan beranak-pinak. “Kegiatan dagang antara Jawa dan Cina pada waktu itu meningkat dan bahwa di Jawa sendiri peran masyarakat Cina dalam bidang perniagaan semakin lama semakin meningkat.” Keuletan dan kehematan sangat menentukan keberhasilan orang-orang Tionghoa yang merantau ke sini meskipun faktor-faktor yang lain juga tetap penting. Orang-orang Tionghoa sejak dulu juga memiliki pengetahuan yang cukup maju. Di bidang maritim, junk menjadi salah satu bukti majunya teknologi orang-orang Tionghoa sejak berabad-abad silam. “Sejak dinasti Song orang Cina memainkan peran yang menentukan dalam kemajuan teknik-teknik kemaritiman,” tulis Lombard. Corak perniagaan kemudian juga berubah. Pada masa Majapahit, perdagangan tidak bebas lagi. Kegiatan itu diserahkan kepada pegawai yang mengurusi dan keuntungannya untuk negara. “Ada alasan kuat untuk memperkirakan – meskipun sumber-sumber dalam hal ini pun sangat singkat – bahwa di Majapahit, seperti di Cina pada zaman Song atau Ming, ataupun di Siam abad ke-17 dan ke-18, perniagaan diselenggarakan demi negara,” tulis Lombard. Seiring waktu, hubungan Tionghoa-Nusantara kian berkembang ke berbagai bidang. Dalam sebuah linggapala peninggalan Dinasti Sung (960-1279) yang ditemukan pada 1961 di Kanton, misalnya, tertulis mengenai sumbangan Sriwijaya untuk keperluan pembangunan kembali kuil Tien Ching di Kanton. “Prasasti itu merupakan lambang dari persahabatan tradisionil antara Tiongkok dan Indonesia,” tulis Benny. Hubungan mereka terus berlanjut. Sriwijaya pun rajin mengirim utusannya ke Tiongkok. “Dapat dikatakan bahwa hubungan antara Cina dan Sumatra Selatan pada masa itu tampaknya tidak hanya menyangkut perdagangan tetapi juga kebudayaan,” tulis Lombard. “Penaklukan propinsi-propinsi di Cina selatan oleh bangsa Monggol, lalu pengiriman ekspedisi-ekspedisi yang terutama terbentuk dari para pelaut dan serdadu yang direkrut dari bagian selatan kekaisaran itu, mungkin sekali mempercepat gerak perantauan Cina ke Asia Tenggara,” tulis Lombard. Hal senada juga ditulis Bernard HM Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia. Dalam bidang kebudayaan, banyak pengaruh budaya Tionghoa yang diadopsi penduduk Nusantara. Meski kadarnya berbeda-beda, seni musik, seni pertunjukan, arsitektur, dan sebagainya hampir semua ada pengaruh Tionghoanya. Sulaman Minangkabau, misalnya, menurut Sativa Sutan Aswar dalam “Pengaruh Budaya Tionghoa Dalam Sulaman Minangkabau,”juga kuat pengaruh budaya Tionghoanya. Di bidang politik, persentuhan Tionghoa-Nusantara telah berjalan berabad-abad lamanya. Pengiriman utusan Sriwijaya ke Tiongkok, merupakan salah satu bukti kuat di masa awal hubungan. Hubungan ini terus berkembang dan semakin ke sini, dinasti-dinasti yang memerintah Tiongkok tidak hanya berhubungan dengan satu kerajaan saja. Perutusan dan upeti yang terus dikirim raja-raja Jawa menjadi tanda keselarasan hubungan mereka. Ketika Kertanegara memerintah di Singosari, hubungan itu sempat rusak. Kertanegara mempermalukan utusan Kubilai Khan. Namun ketika Majapahit berkuasa, hubungan kembali mesra. Bahkan, gambaran lengkap mengenai masa akhir Majapahit yang “gelap”, terdapat dalam kronik Sam Po Kong. Dari kronik itu pula diketahui bahwa orang Tionghoa pernah ada yang diangkat menjadi penguasa Majapahit: Njoo Lay Wa. Namun, bekas rakyat Majapahit kurang simpatik kepadanya dan pada 1485, “timbul pemberontakan anti-Tionghoa di pelbagai tempat di wilayah Majapahit,” tulis Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara. Ketika Islam mulai tumbuh dan akhirnya berkuasa di Nusantara, peran Tionghoa dalam penyebaran agama itu juga besar. Walisongo yang di Jawa dianggap sebagai penyiar Islam, kebanyakan merupakan orang Tionghoa. Sunan Ampel, misalnya, nama aslinya adalah Bong Swi Hoo. Dia datang ke Jawa pada 1445. Buah pernikahannya dengan Ni Gede Manila (anak mantan kapitan Tionghoa di Manila Gan Eng Cu) adalah Bonang (Sunan Bonang) dan Gan Si Cang atau Raden Said (Sunan Kalijaga). Selain itu, anggota walisongo yang lain adalah Toh A Bo (Sunan Gunung Jati) dan Ja Tik Su (Sunan Kudus). Orang-orang Tionghoa juga turut andil dalam berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Pendiri kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak, adalah Jin Bun alias Raden Fatah. Ketika kerajaan-kerajaan Islam berkuasa atas kebanyakan wilayah Nusantara, misi persahabatan Tionghoa pimpinan Laksamana Cheng Ho tiba di Jawa. Kala itu peranan orang Tionghoa telah besar. Keahlian mereka dalam beragam bidang, menurut Eddie Lembong, pengusaha keturunan yang kini mengelola Yayasan Nabil, membuat banyak pihak menggunakan jasanya. “Di zaman sebelum Belanda datang, orang Tionghoa dekat dengan istana-istana. Yang mengurus keuangan di keraton atau yang membuat bangunan-bangunan keraton dan segala macam yang lain-lain, banyak sekali panggil orang-orang Tionghoa,” lanjut Edi. Eddie benar. Salah satu nama arsitek asal negeri Tiongkok yang membantu Kesultanan Banten mendirikan menara masjidnya adalah Cek Ban Cut. Ban Cut mendesain dan membantu Banten mendirikan menara masjid yang sampai kini masih berdiri megah. Dari corak arsiteknya bisa dilihat pengaruh gaya Tiongkok. Ban Cut kemudian masuk Islam dan dianugerahi gelar Pangeran Wiradiguna oleh Sultan Banten. Keadaan itu berubah saat penjajah Barat datang, mendirikan hegemoni kekuasaan kolonial di Nusantara. Belanda membuat peraturan kewarganegaraan berdasarkan apartheid, memilah kelompok warganya berdasarkan warna kulit dan ras. Warga Tionghoa yang sudah berbaur dengan warga pribumi sejak berabad sebelumnya, di bawah kolonialisme kembali “dipisahkan” untuk kepentingan penjajahan itu sendiri. [MF. MUKTHI] http://www.majalah-historia.com/majalah/historia/berita-242-jejak-saudara[/IMG]

  2. Like trucci liked this post.
  3. #2
    Contributor
    Reputation
    STAIRWAYtoHEAVEN's Avatar
    Join Date
    May 2010
    Location
    LintasCafe | TokoKartuNama.com
    Posts
    3,334
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    8656.6
    Level
    28
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    5.34%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 1000 Posts! 500 Posts! 200 Posts!
    Rep Power
    50
    postingan bagus & bermutu, sbg sumber informasi

    sayang di posting datar gtu
    keterbatasan akses, bsk di kantor gw bantuin ngedit deh, biar enak dibacanye hehehehehe
    FUCKforPEACE

  4. Thanks kamal Tanudjaya thanked for this post.
  5. #3
    Tamu Mampir
    Reputation

    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    82
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    437.1
    Level
    7
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    55.63%
    Weekly Activity
    3.02%
    Rep Power
    2

    Dari Cincai Sampai Sio may..!!

    » Dari Cincai sampai Siomay
    13 September 2010, 23:44
    Diarsipkan di bawah: Umum & Lain-lain

    SEJARAWAN Denys Lombard, melalui magnum opusnya Nusa Jawa Silang Budaya, memandang penting pengaruh komunitas Cina negeri ini. Pengaruh kebudayaan itu tersebar mulai gaya bangunan, pakaian, bahasa bahkan sampai makanan. Sebegitu dekatnya, sehingga tanpa disadari warisan budaya itu pun melekat erat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Seperti tak ada lagi batas.

    Tahun ini boleh saja pemerintah Indonesia merayakan 60 tahun hubungan diplomatiknya dengan China, kendati usia itu tidak genap karena sempat terinterupsi selama kurang lebih 15 tahun di bawah zaman Orde Baru. Adalah fakta sejarah jika osmosis budaya Tionghoa ke dalam budaya Nusantara sudah terjadi semenjak ratusan tahun lalu.

    Namun demikian selalu saja ada penilaian minor terhadap etnis minoritas ini, mulai dari soal penguasaan sumberdaya ekonomi sampai dengan gaya hidup ekslusif yang dilakoni mereka. Stereotipe tentang Tionghoa yang picik, culas, dan menghalalkan segala cara untuk mencari uang pun menyebar luas di kalangan warga pribumi. Padahal, sifat yang sama juga bisa jadi dimiliki oleh komunitas etnis lainnya di negeri ini, tak terkecuali pribumi sendiri. Stigma itu tentu tidak datang dengan sendirinya di dalam benak warga non-Tionghoa. Ada proses sejarah yang melatarinya.

    Perlakuan diskriminatif yang dilakukan oleh pemerintah kolonial terhadap warga Tionghoa dengan memisahkan mereka untuk tinggal di gheto-gheto tersendiri dipercaya menjadi sabab musababnya. Tapi bila merunut lebih jauh lagi, justru ada cerita tentang kebersamaan warga Tionghoa bahu-membahu dengan warga pribumi melawan Belanda, khususnya pascaperistiwa pembantaian 1740 di Batavia. Bahkan Sumanto Al-Qurtuby dalam bukunya Arus Cina-Islam Jawa mengajukan tesis kalau penyebaran Islam di Nusantara tak lain tak bukan berkat jasa para orang-orang Tionghoa.

    Keharmonisan hubungan itu perlahan pudar seiring kebijakan pemerintah kolonial yang kemudian menempatkan warga Tionghoa, mengutip sejarawan Didi Kwartanada, sebagai minoritas perantara (Middleman Minority).“Golongan Tionghoa dimanfaatkan sebagai perantara ataupun “mesin pencetak uang”, baik oleh raja-raja maupun oleh penguasa kolonial,” tulis Didi dalam makalahnya, “Tionghoa dalam Dinamika Sejarah Indonesia Modern: Refleksi Seorang Sejarawan Peranakan.”

    Dari sanalah peran warga Tionghoa dilembagakan; seakan ditakdirkan sebagai kelompok pedagang yang cuma bertugas menghasilkan uang dan bisa diperas sewaktu-waktu demi kepentingan ekonomi dan politik tertentu. Peran itu kembali dikukuhkan semasa Orde Baru. Hak-hak sipil warga Tionghoa dibatasi, namun sebagian kecil dari mereka, khususnya yang memiliki akses ke kekuasaan, mendapat peluang untuk menjalankan bisnis berbasis rente. Sungguh sebuah kebijakan yang ambigu.

    Peran sejarah komunitas Tionghoa, seperti dalam bidang bahasa, sastra dan pers pun dilupakan. Komunitas Tionghoa yang identik dengan kegiatan dagang dan tuduhan komunis yang dilabelkan kepada mereka pascaperistiwa G.30.S menghapus sumbangsih mereka pada pembangunan bangsa ini. Salah satunya yang pernah dilakukan oleh Sin Po. Sebagai harian terkemuka yang direken berorientasi ke nasionalisme Tiongkok justru koran Tionghoa pertama yang berani menggunakan istilah Indonesia menggantikan istilah inlanders. Ang Jan Goan dalam memoarnya mengakui kalau tindakan itu bukannya tanpa akibat: Sin Po harus menanggung kerugian akibat pencabutan iklan pemerintah kolonial.

    Pandangan miring lain yang juga dilabelkan kepada komunitas Tionghoa adalah cara mereka beradaptasi dengan situasi politik yang cepat berubah. “Pada zaman Belanda mereka bersikap pro-Belanda. Pada saat Jepang menjadi tuan, mereka berkawan dengan Jepang. Kemudian datanglah revolusi dan mereka bersikap baik kepada kita…Akhirnya yang bisa dikatakan hanyalah bahwa mereka ini adalah kaum oportunistis yang tidak bisa diperbaiki,” tulis Didi Kwartanada mengutip Abu Hanifah dalam Tales of a Revolution. Tak aneh jika istilah “cincai” kerapkali digunakan untuk menunjukkan sikap kompromi terhadap segala sesuatu yang bisa mendatangkan untung/keselamatan.

    Seperti tak puas dengan stigmatisasi, penggunaan kata “Cina” pun kerapkali digunakan dengan tujuan insinuasi terhadap komunitas Tionghoa. “Padahal istilah itu bukan lahir dari warga keturunan Tionghoa sendiri,” ujar Eddie Lembong, mantan ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) yang kini mengelola Yayasan Nabil.

    Eddie kemudian mengutip teks pidato pengukuhan guru besar Prof. Dr. A.M. Cecillia Hermina Sutami yang memberikan penjelasan bahwa kata “Cina” (Inggris: China), (Belanda: China/Chinees), (Jerman: Chinesische), (Perancis: Chinois) berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “daerah yang sangat jauh”. Kata “China” sendiri sudah disebutkan di dalam buku Mahabharata sekitar 1400 tahun sebelum Masehi. Istilah itu baru dibawa oleh bangsa-bangsa Barat yang mulai datang ke Nusantara sejak awal Abad ke-17. Eddie lebih cenderung kepada istilah Tionghoa. “Istilah Tionghoa jauh lebih tepat untuk digunakan karena sebutan itu datang dari kalangan Tionghoa sendiri,” kata pendiri sebuah perusahaan farmasi terkemuka itu.

    Pada era feformasi, terutama saat Gus Dur memimpin negeri ini, angin segar perubahan pun berhembus semilir. Hak-hak sipil warga Tionghoa untuk menjalankan kegiatan kesenian dan kebudayaannya kembali pulih. Bahkan hari raya Imlek dijadikan libur nasional. Gus Dur memang benar. Minoritas Tionghoa adalah bagian dari “kekitaan” sebagai sebuah bangsa. Mereka memperkaya khasanah keberagaman negeri ini.

    Kekayaan budaya Tionghoa adalah juga kekayaan negeri ini, kuliner salah satunya. Ada beragam macam menu makanan yang datang dari negeri nun jauh di sana yang kemudian tanpa kita sadari seakan makanan itu adalah produk budaya bangsa tanpa harus khawatir dikenakan royalti oleh negeri asalnya. Dan komunitas Tionghoalah mengenalkan itu semua. Bayangkan jika Anda harus membayar royalti untuk sepiring siomay yang Anda santap di sore hari.

    Enampuluh tahun perayaan hubungan diplomatik Indonesia-China seyogianya jadi momentum untuk hubungan yang lebih erat, bukan hanya bagi kedua negara, melainkan pula buat saudara kita warga keturunan Tionghoa dan seluruh rakyat Indonesia apa pun warna kulit, agama, dan sukunya. (Bonnie Triyana)

    Kutipan dari
    Sorry, please register/login first to see this link

  6. Like trucci liked this post.
  7. #4
    Tamu Mampir
    Reputation

    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    82
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    437.1
    Level
    7
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    55.63%
    Weekly Activity
    3.02%
    Rep Power
    2

    Smile Kami Keturunan Tionghoa

    Kami keturunan tionghoa
    oleh Chang Yan Tong pada 13 September 2010 jam 16:52

    Kami datang belakangan , awalnya kami datang dalam kemiskinan, Anda sudah tiba sejak Generasi nenek moyang anda .

    Kami duduk dibawah terik matahari menunggu dagangan kami,

    disaat anda meminta bagian anda untuk uang "keamanan"





    Kami mengayuh sepeda berjualan bakpao

    disaat anda sedang menikmati makanan kesukaan anda.

    Kami menghitung berapa kuat kami bisa menanggung beban dan berapa yg bisa kami tabung,

    disaat anda menghitung apa yang bisa anda beli dengan uang anda.





    Kami berusaha dan mencari apa yang bisa kami jadikan uang,

    ketika anda sedang mencari barang apa yang bisa dibeli dengan uang anda.

    Kami berhubungan dengan orang-orang yg berpengaruh agar kami bisa lancar mencari makan,

    ketika anda sedang menikmati hidangan makan malam anda dimeja.





    Kami berani menanggung resiko atas pinjaman2 dengan bunga tinggi

    disaat anda sedang merasa berpuas diri akan penghasilan rutin anda

    Kami rela makan nasi sekali sehari demi masa depan,

    disaat anda menuntut makan 3 kali sehari.





    Kami mengirit dan rela menggunakan pakaian ala kadarnya,

    disaat anda menggunakan pakaian mewah buatan Perancang & Butik terkenal





    SETELAH BERPULUH TAHUN BERLALU ....





    Kami menikmati apa yang telah kami perjuangkan,

    disaat anda mengumpat dan berkata " sialan, lu nguasain negara gueee

    Kami menikmati liburan setiap tahun ke luar negeri bersama keluarga

    Untuk melihat indahnya alam ciptaan Tuhan,

    disaat anda ribut akan kenaikan harga sembako.

    Kami bersyukur atas hasil kerja keras kami,

    disaat anda sedang sibuk mengutuki negeri ini dan berdemo anarkis merusak negeri ini



    Kami berjalan menyisir pantai, melihat tenggelamnya matahari ,

    ketika anda melihat matahari tenggelam dari jendela tempat kerja anda

    Kami melakukan pesta syukuran keluarga karena ada anggota keluarga kami yang pergi menuntut ilmu ke Luar Negeri,

    ketika anda sedang pusing memikirkan bagaimana menyekolahkan anak anda.





    Kami menikmati dan bercerita tentang bagaimana indahnya hidup ini,

    ketika anda bercerita tentang susah dan pahitnya hidup ini

    Kami berpikir besok mau makan apa,

    ketika anda berpikir apa besok bisa makan.





    Saat kami menikmati puncak kesuksesan,

    anda menyalahkan kami atas kemiskinan anda.

    Saat kami masuk ke pintu ruang pabrik kami,

    anda datang minta bagian atas apa yang telah kami perjuangkan





    Kami tahu sebagian dari anda menganggap kami hanya pendatang,

    tapi kami tahu bagaimana membuat hidup ini menjadi lebih berarti,

    kami telah tunjukan bagaimana kami berjuang lebih keras dalam hidup ini

    Kami tahu sebagian dari anda menanggap kami ini hanya numpang,



    tapi kami telah tunjukan bahwa kami bukan penumpang gelap yang tak membayar,

    kami telah tunjukan bahwa kami adalah juga pejuang yang gigih,

    bahkan banyak dari kami juga telah ikut berjuang bahu membahu dengan para pejuang lain.





    Kami ini adalah turunan pengusaha ulet yang menganggap uang bukan jatuh dari langit, tapi harus dibayar dengan keringat dan kadang dengan darah maupun air mata.

    Tapi anda mengutuki kami, mengapa negeri ini penuh dengan keturunan kami yang sukses,

    Banyak dari anda yang mengiri akan kesuksesan kami

    Bukan kami menjauhkan diri dari komunitas anda,

    tapi karena kami hanya menjaga agar anak2 kami lebih terjaga tingkah lakunya.





    Kami bukannya sombong dan kami sama sekali tidaklah membenci anda,

    tapi kami hanya ingin hidup seperti apa yang nenek moyang kami ajarkan,





    " JANGAN PERNAH MEMINTA, TAPI BERUSAHALAH "





    Bukan kami tak mencintai Negeri ini, percayalah Hati kami telah tertaut dan milik Negeri ini

    Kami ini ditakdirkan lahir di Negeri ini , mencari hidup dan ingin mati di negeri ini.

    Tapi sebagian dari anda membenci kami dan bahkan ingin menyakiti kami .

    Percayalah kami ini hanya berkorban , kami hanya berbuat yang terbaik untuk anak-cucu kami



    Kami ini berjuang dari kemiskinan untuk mencapai kemakmuran,

    kami ini tidak meminta dengan gratis, kami membayar apa yang harus kami bayar,





    KAMI KETURUNAN TIONGHOA, KAMI BANGGA





    Meski kami kenyang tapi kadang tidur kami tak nyenyak, kami dalam ketakutan ,



    Takut diserbu dan kembali disakiti, Kami dihantui mimpi buruk ,



    nyawa bisa hilang dan rumah pun bisa jadi abu,



    kadang kami merasa berdiri diatas Bom Waktu yang bisa meledak setiap sa’at.



    Kami telah terlahir di Indonesia, kebanggaan dan Tumpah Darah kami tentulah Indonesia.





    jangan tanya Tuhan kenapa kami dilahirkan disini ,



    Jangan lagi bicara sipitnya mata kami ,



    jangan lagi bicara kuningnya kulit kami,



    jangan lagi masalahkan kesukuan kami ,



    karena Tumpah Darah kami tetaplah Indonesia



    karena Minum kami adalah air Indonesia ,



    makan kamipun juga nasi Indonesia



    Maka Darah kami pastilah juga Darah Indonesia.



    I LOVE INDONESIA

    ( Dikutip dari catatan : Huang crazy huang)

  8. Like trucci, Alu BSD liked this post.
+ Reply to Thread

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Similar Threads

  1. Akankah terjadi perang saudara....akibat diprovokator AS.?
    By kamal Tanudjaya in forum DUNIA dalam BERITA
    Replies: 0
    Last Post: 20-08-2010, 22:50
  2. Replies: 0
    Last Post: 11-08-2010, 12:50
  3. Ditemukan, Jejak Kaki Reptil Tertua di Dunia
    By baresi 06 in forum SEJARAH
    Replies: 0
    Last Post: 03-08-2010, 08:56
  4. Replies: 0
    Last Post: 28-06-2010, 12:40
  5. Tak kenal maka tak sayang
    By linux in forum SILATURAHMI
    Replies: 10
    Last Post: 04-06-2010, 00:52

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts