Intisari, Oktober 1998
Sorry, please register/login first to see this image
BUNG KARNO dan Ratna Sari Dewi
Dari semua buku perihal mantan Presiden Soekarno (Blitar 6 Juni 1901 – Jakarta 21 Juni 1970), mungkin buku Guntur Soekarno ini paling unik dan menarik. Buku kecil Bung Karno Bapakku-Kawanku-Guruku, tulisan putera sulungnya, meski bertutur ringan, anekdotik dan berbahasa populer, buku ini ternyata mampu menguak lebih jauh sisi kehidupan Bung Karno sebagai manusia, lelaki, pemimpin dan kepala keluarga.
Juga Soekarno sebagai orang biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa, namun “luar biasa”, seperti ulasan ini.
Dis, gimana kabarnya Istana? … Ada hindul-hindul yang nyelundup masuk nggak?
+ Kayakya sih nggak; pada ngeri kali … gara-gara Mas labrak si Deweh (Deweh maksudnya Dewi) … Eh, Gun tapinya ya, aku sekarang ini di Istana agak curiga sama satu orang deh … Aku takut, jangan-jangan Bapak naksir nantinya kan hindul-hindul markindul bisa jadi nambah …
Ngomong-ngomong cakepnya seberapa sih Dis? Cakep mana sama Dewi?
Kutipan kalimat di atas, merupakan salah satu tulisan Guntur berjudul “Bung Karno Kontra C.I.A“. Dalam buku berukuran 11 x 18 cm2 setebal 256 halaman, berisi sekitar 25 judul kecil serta puluhan foto eksklusif. Guntur menulis dengan gaya “aku” bertutur, serta beberan kalimat langsung, serta anotasi, misalnya “Waktu: 1962-1964, Tempat: Istana Merdeka, Yang Hadir: Bung Karno, Megawati, ajudan, aku.”
Nilai utama buku eksklusif terbitan PT. Delta – Rohita ini, terbaca dalam tuturan Guntur perihal hubungan intim antarwarga keluarga Bung Karno. Siapa yang tahu kalau Megawati Soekarnoputri, ternyata bernama panggilan Gadis atau Adis. Ibu Fatmawati sebagai first lady dan ibu lima anak, masih sering berkata-kata dengan dialek bahasa Melayu Bengkulu.
mega-sukarno-guntur
Sorry, please register/login first to see this image
BUNG KARNO dan anak-anak.
Guntur yang dipanggil “Gun” sama Mega, atau bernama akrab Mas Tok, ternyata dipanggil “Jang” alias Bujang oleh sang bunda. Uniknya, keluarga Soekarno ini ada kata sandi khusus untuk “buang air besar”, yakni “o-ok”.
Kalau “hindul-hindul markindul”, merupakan kata sandi untuk isteri muda Soekarno, terutama gelar untuk Deweh alias Ratna Dewi yang hindul markindul asal Jepangnya Bung Karno. Hampir tiap peristiwa, Guntur berupaya mengenang kembali ingatannya, terutama masalah kutipan langsung pembicaraan sang bapak.
Sebagai pemimpin besar bangsa Indonesia, Bung Karno terbaca amat piawai berkomunikasi dalam berbagai bahasa asing, juga berbahasa daerah. Selain berbahasa Jawa, Soekarno senang memakai bahasa Sunda untuk berbicara dan mendamprat staf rumah tangga istana.
Misalnya dalam tulisan “Saro’i The Great”, ada kata-kata Bung Karno kepada Saro’i – pengemudi keluarga Soekarno: “Nya! Geus dimaafkeun, umpama keur ngajar Guntur nubruk taneman Bapak jeung tembok istana make mobil! (Ya, sudah dimaafkan, misalnya waktu mengajar Guntur nabrak tanaman Bapak dan tembok istana)”.
Kentuti PBB Bung Karno yang berhobi berat makan durian, tapi tak suka makan petai dan jengkol, karena kalau “ki’ih” (kencing-red) akan berbau. Namun Ir Soekarno suka lagu klasik Italia. Khususnya kalau beranjangsana ke Italia, Soekarno selaku kepala negara RI tak segan ikut mementang suaranya melagukan “O Sole Mio”, bersama pelayan hotel. Sampai-sampai Guntur pun menjuluki bapaknya The Great Caruso.
fatwati-guntur-sukarno
Sorry, please register/login first to see this image
FATMAWATI, Guntur dan Bung Karno, 11 Maret 1946. Foto:Bettmann/CORBIS
Sebagai putra sulung, Guntur rupanya paling banyak sering mendapat kesempatan belajar langsung dari ayahnya. Apalagi selewatnya masa akil baliknya Guntur, si anak pertama ini tak cuma diindoktrinasikan soal paham negara RI yang anti berat sama neokolonialisme dan imperialisme, tapi juga soal “isme-isme” lainnya, termasuk wanita cantik.
Misalnya sekali waktu, Bung Karno berdiskusi soal wanita cantik di obyek lukisannya:
sepotong-kain-merah
Sorry, please register/login first to see this image
SEPOTONG kain merah, lukisan koleksi Bung Karno.
+ … perhatikan sorot matanya … belum lagi bentuk hidung dan bibirnya … apa pernah lihat bentuk yang secantik ini … potongannya bagaimana? Ini ia punya bentuk tubuh maksudku … Ini figur puteri Solo asli! Pernah punya pacar orang Solo? … Kalau mau cari pacar orang Solo, figurnya harus seperti ini … baru namanya cantik …
Memangnya dia siapa sih Pak?
+ Ho, ho rahasia! … Pendek kata cantik tidak? … boleh bandingkan dengan pacar-pacarmu, kalau memang kau punya!
Si Mas Tok ini, menuturkan pula bagaimana dirinya tak jarang menjadi sekretaris istimewa, atau pelayan perpustakaan kepresidenan. terutama di saat Soekarno sedang mepersiapkan pidato kenegaraannya. Sang Bapak selalu memamnggil Mas Tok, seraya menyebut nama penulis atau judul buku, hingga Guntur harus pontang-panting menyiapkan buku referensi bagi bapak tercintanya.
Meja makan merupakan arena paling akrab untuk keluarga besar Soekarno. Seusai makan, keluarga presiden ini biadsanya melahap bebuahan segar dan manis, terutama di musim rambutan dan durian. Untuk buah berduri ini, Guntur mengisahkan betapa bapaknya pernah mengajarkan teori memilih durian.
+ Jadi Bapak ulangi! Satu! … periksa tangkainya. Dua! … lihat duri-durinya. Tiga! … cium baunya dari sebelah pantat. Kalau ketiga-tiganya baik itu tandanya durennya jempolan! Nanti kau bisa buktikan setelah duren-durennya ini Bapak pilih terlebih dahulu …
Yaaa Pak! Kok durennya bosooookk! Duiiillaaahh! Gimana sih Bapak milihnya?
+ Ndak tahulah! Sekali ini Bapak meleset pilih duren! Uh … ini duren mungkin jenis baru …
Emangnya jenis apa Pak?
+ Jenis duren … kontra revolusi!
Tampak sekali, Presiden pertama RI yang di dunia internasional disegani, karena sikap dan ucapannya yang keras soal kolonialisme dan imperialisme, serta dinilai sebagai pemimpin besar yang gandrung akan persatuan dan kesatuan, serta getol menanamkan sikap patriotisme dan nasionalisme bagi rakyatnya.
Guntur sebagai “sparring partner” Bung Karno, tentu tak lepas dari persoalan beginian. Meski di hadapan anaknya, Soekarno memiliki cara dan gaya diskusi tersendiri. Tak jarang Bung Karno meledakkan emosinya, sambil melampiaskan juga perasaannya yang tak mungkin diumbar di muka umum. Sekali waktu (dalam judul “Penyelundup Senjata”), Bung Karno mengisahkan kepada Guntur, soal peranan RI dalam membantu kemerdekaan Aljazair, seusai acara makan duren.
+ Eh aku mau kasih tahu, kalau hari Sabtu jangan makan duren. Dus malam Minggu; pasti pacarmu nggak mau kau cium, karena kau bau duren … ngerti?! Kok Bapak kelihatannya seneng bener? Ada apa sih?
Lalu Soekarno menuturkan peranan RI, sambil menyebut berita ini “top secret” kelas A. Katanya, RI bukan cuma memberi dukungan diplomatik terhadap Aljazair, malah pernah membantu dengan menyelundupkan senapan.
Kalau waktu itu misalnya ketahuan gimana Pak? Dunia kan geger!
+ Ya biar saja geger, aku ndak rewes (ndak rewes = ndak peduli) … Aku tidak feeerduliii! Buat Bapak kalau urusan membantu kemerdekaan satu bangsa, hanya satu yang bisa melarang … Tuhan! Lain tidak! Tahu kau! (Bapak melotot kepadaku sambil memukul-mukul meja dengan tinjunya) … Ayoooo … mau apa! PBB mau kutak-kutik? Mau tahu akan aku apakan PBB? Tahu ndaaakk?! … PBB Bapak akan beginikan ….
Tiba-tiba dari bawah meja terdengar suara … duuuut … duuut … breeettt!
Hiih! … Bapak kentut ya!
+ Ya! … aku akan kentuti PBB kalau mereka berani turut campur urusan orang merebut kemerdekaan!!
Bookmarks