+ Reply to Thread
Page 1 of 2 1 2 LastLast
Results 1 to 20 of 23

Thread: Bung Karno, mengenang pribadinya

  1. #1
    Tamu Baik
    Reputation
    Luna Maya's Avatar
    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    269
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    834.35
    Level
    10
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    10.38%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 200 Posts!
    Rep Power
    4

    Bung Karno, mengenang pribadinya

    “Bung Karno selalu memperhatikan secara detail setiap situasi. Sebelum berbicara di sebuah acara, ia memperhatikan siapa yang akan mendengarkan, latar belakangnya, secara saksama,” cerita Minarsih (Mien) Soedarpo (77), istri pengusaha Soedarpo Sastrosatomo, komisaris PT Samudra Indonesia yang pernah menjadi konsul RI di Ameriksa Serikat.

    Bagi pihak yang diperhatikan, apalagi secara saksama, sikap Bung Karno itu bisa membuahkan seribu penafsiran. Terutama bagi para wanita, seperti acap terungkap dalam sejarah, proklamator RI itu memiliki pesona amat besar.

    Suatu saat di akhir 1950-an, Mien, mewakili Gerakan Wanita Sosialis, hadir dalam sebuah acara di Istana Merdeka yang mengundang semua organisasi wanita. Halaman belakang istana penuh, banyak undangan yang berdiri karena tak kebagian kursi. Bung Karno berteriak, “Hei, hei, wanita-wanita cantik yang pakai kelom geulis (bakiak cantik Bandung yang waktu itu sedang jadi mode), mari ke sini! Duduk dekat saya.”

    Kontan, para wanita berlarian mendekati Bung Karno. “Yang sudah bersusah-payah mendapatkan kursi rela kehilangan. Semua berebut untuk mendekat. Begitu kuatnya daya tarik Bung Karno!” kenang Mien.

    Garansi Bung Karno

    Presiden pertama RI itu memang ramah. Dan tahu tata krama. Di hadapan wanita ia sangat mampu menempatkan diri, bahkan di hadapan wanita yang menarik perhatiannya, ia tahu diri manakala ditolak atau situasi tidak memungkinkan.

    Mien yang sudah kenal Bung Karno sejak 1946, karena ayahnya, Wiranatakusumah, adalah mendagri kabinet pertama dan kemudian menjadi ketua DPA, suatu ketika diundang Bung Karno dan Ny. Fatmawati (ketika itu sedang mengandung Megawati) ke Yogyakarta. Dari Yogya mereka ke Magelang karena Bung Karno ingin dipijat oleh istri Bupati Magelang, Sujudi, yang pintar memijat.

    “Kami dibawa dengan mobil seven seats. Di depan ada sopir dan ajudan, di tengah dan belakang ada Bung Karno, Bu Fat, ipar saya, keponakan, dan saya,” kenang Mien. Dalam perjalanan itu, Ny. Fatmawati yang sedang mengidam, setiap saat minta berhenti untuk membeli apa saja yang dia inginkan. Bung Karno menuruti saja, banyak tertawa menanggapi kemanjaan istrinya.

    Mien ingat, Ny. Fatmawati bilang, “Dulu saya diramal akan kawin dengan orang kaya.” Mendengar itu, Bung Karno menanggapi, “Bukan kaya materi, tapi kaya pengalaman.”

    Mien lalu menyimpulkan, Presiden Soekarno memberi perhatian besar pada soal moralitas dan kepribadian ketimbang materi, dan itu mendasari sikapnya dalam berhubungan dengan banyak orang.

    Soal ini Mien juga pernah merasakan hikmahnya ketika ia dilamar oleh Soedarpo Sastrosatomo melalui orang tuanya. Ayah Mien yang belum tahu Soedarpo menanyakannya kepada Bung Karno. Jawabnya, “Oh, saya kenal Soedarpo. Ia asisten Perdana Menteri Sjahrir. Saya menggaransinya.”

  2. Thanks Sudirman thanked for this post.
  3. #2
    Tamu Baik
    Reputation
    Luna Maya's Avatar
    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    269
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    834.35
    Level
    10
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    10.38%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 200 Posts!
    Rep Power
    4

    Penuh wibawa namun sopan

    Sorry, please register/login first to see this image


    Penyanyi dan pencipta lagu Titiek Puspa (64) pun melihat betapa Bung Karno bisa menempatkan diri saat berhadapan dengan orang yang baru dikenal.

    Ketika itu tahun 1959, tak lama setelah Titiek hijrah ke Jakarta dari Semarang. Sebagai peraih gelar Bintang Radio, ia diundang untuk menyanyi di Istana Merdeka. Bung Karno mengampirinya dan bilang, “Oh, ini to yang namanya Titiek Puspa,” sambil mengulurkan tangan. Penuh wibawa tapi amat sopan. Titiek merasa tenang, tidak minder, apalagi takut.

    Sejak itu Titiek menjadi penyanyi istana bersama penyanyi dan pemusik lain seperti Nien dan Jack Lesmana, Fetty Fatimah, Mus Mualim, dll. Mereka dijuluki “Lensoist” karena setiap saat mengiringi para undangan menari lenso.

    Sorry, please register/login first to see this image


    Dalam masa Bung Karno membenci musik Barat yang diistilahkannya “Ngak-ngik-ngok”, Titiek menyanyikan lagu ciptaannya, Marilah Kemari, yang berirama cepat. Bung Karno langsung menghardik, “Eit, siapa yang meminta lagu itu?! Ayo ganti lagu, kita berlenso saja!”

    Titiek yang ketakutan, belakangan lega karena yang dimarahi bukan dirinya, melainkan orang yang meminta dia melagukannya.

    “Tapi marahnya tidak berpanjang-panjang. Malah menurut saya Bung Karno tidak marah, kok. Cuma gusar,” kenang Titiek.

    Di situlah Titiek Puspa tahu, Bung Karno orang yang sangat imbang, bijak, sekaligus penuh penghargaan. Titiek cukup dekat dengan Bung Karno, dan hubungan keduanya bagaikan bapak dengan anak. Dalam banyak perjamuan Titiek kebagian “tugas” mengupaskan mangga untuk Bung Karno.

    “Beberapa kali saya diberi uang langsung dari kantong celananya, di depan banyak orang. Katanya buat belanja atau untuk dibagi dengan teman-teman. Padahal honor dari sekretariat presiden tetap dibayarkan. Bagi saya, perlakuan itu sungguh mengesankan, tidak soal jumlah uangnya berapa. Sangat manusiawi. Kita bisa membayangkan, betapa presiden pada masa itu mengeluarkan sendiri uang dari saku celana, tidak main tunjuk lantas orang lain yang sibuk mengeluarkan uang,” lanjut Titiek.


    Sorry, please register/login first to see this image


    Sepatu bolong

    Bung Karno memang dikenal apa adanya, tidak hipokrit, dan tidak banyak menyembunyikan kenyataan. Salah satu yang diingat Titiek Puspa adalah perihal sepatunya yang berlubang di salah satu bagian ujung, katanya agar tidak mengganggu pangkal jarinya yang bengkak oleh mata ikan.

    “Banyak orang tahu, beliau tidak sungkan memperlihatkan jarinya yang bubulen sehingga perlu sepatu khusus,” sambung Titiek.

    Rima Melati, aktris-sutradara dan mantan peragawati yang kini 62 tahun, awal mulanya tidak tahu sepatu berlubang itu membawa alasan medis pemakainya.

    “Tadinya saya cuma heran, lo kok sepatu Bapak bagus-bagus tetapi bolong. Sambil ketawa Bung Karno bilang, jarinya kena mata ikan. Terus tanpa sungkan memperlihatkannya,” kata Rima, yang tahun 1959 sampai awal 1960-an cukup dekat dengan Presiden Soekarno karena sering meramaikan acara di Istana Merdeka maupun Istana Bogor. Ia salah satu dari empat personel Baby Dolls yang terdiri atas Rima Melati, Baby Huwae (meninggal tahun 1989), Gaby Mambo, dan Indriati Ishak.

    Bung Karno kebetulan pernah dikenal Rima di masa kecil. Ketika presiden itu memerintah di Yogyakarta, sekitar Clash II tahun 1949, Rima pernah diajak orang tuanya berkunjung.

    Sepuluh tahun kemudian, Rima yang sudah menjadi bintang film, bertemu lagi dengan Bung Karno di Jakarta. Sejak itu ia sering terlibat dalam banyak kegiatan di istana.

    Suatu saat ibunya, perancang dan perintis dunia mode Indonesia, Non Kawilarang, pergi ke Hong Kong. Rima yang tomboy sejak remaja, ingin memakai mobil ibunya. Sayang ia tak punya uang untuk membeli BBM secara rutin. Maka ia minta kepada Bung Karno agar diizinkan mengisi tangki mobilnya di pompa bensin istana. Ternyata diizinkan.

    “Kalau kebetulan Bung Karno ada, saya mampir dan ngobrol-ngobrol. Beliau banyak memotivasi saya, memberi saran untuk membaca buku tokoh-tokoh wanita dunia, dan bercerita tentang banyak hal,” kata Rima.

    Sisi kemanusiaan Bung Karno banyak terlihat di saat senggang. Pernah suatu kali Rima menawarkan rokok kepada Bung Karno, dan diterima, tanpa diembel-embeli nasihat tentang kesehatan atau bahaya rokok.

    Ihwal nama Rima Melati, yang banyak diduga orang pemberian Bung Karno, si pemilik nama punya cerita berbeda. Sekitar awal 1960-an Bung Karno suka mengganti nama orang yang dikenalnya, yang dirasa kebarat-baratan. Maka nama Baby Huwae disarankan untuk diganti Lokita Purnamasari—dan sampai akhir hayatnya Baby Huwae memakai nama itu. Sedangkan Marjolein Tambajong, panggilannya Leintje, nama asli Rima Melati, memang pernah dikatakan kebarat-baratan oleh Bung Karno.

    Marjolein yang ketika itu sedang mengandung anak kedua, ingin memberi nama Rima kepada si anak jika perempuan. Ia diilhami tokoh Rima the Bad Girl dalam film Green Mansions (1959) yang diperani Audrey Hepburn. Sayang, janin itu meninggal sebelum dilahirkan. Leintje yang terpukul, menceritakan peristiwa itu kepada Bung Karno, sekaligus mengutarakan keinginannya untuk mengambil alih nama Rima, dikombinasi dengan “Melati”.

    “Bung Karno bilang, ‘That’s a good name’. Sejak saat itu beliau selalu memanggil saya Rima Melati. Kepada setiap orang beliau memperkenalkan saya sebagai Rima Melati.”




    Bisa mencitrakan diri

    Hubungan yang cukup dekat tidak lantas berubah karena Rima merasa, Bung Karno sangat piawai menempatkan diri. Sekaligus mencitrakan diri.

    “Kami bagaikan Bapak dan anak, dan menurut saya karena beliau memang membuatnya seperti itu. Mungkin dengan wanita lain beliau mencitrakan diri berbeda sehingga akibatnya berbeda, saya tidak tahu,” kata Rima.

    Rima tahu, belakangan ada temannya yang menjadi kekasih Bung Karno, namun ia tidak peduli. “Dan rasa hormat saya kepada Bung Karno tidak berubah.”

    Satu hal yang membuat Rima kecewa adalah ketika ia telah capek-capek berlatih mengibarkan bendera pusaka untuk upacara 17 Agustus di istana, pada saat-saat terakhir ia tersisihkan, diganti gadis lain yang belakangan santer dikabarkan sebagai kekasih Bung Karno.

    Rima Melati, yang ketika di bangku SD Kebangkitan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) satu kelas dengan Abdurrahman Wahid, menambahkan kekagumannya pada Bung Karno karena rasa kemanusiaannya.

    Ceritanya, suatu ketika ia diajak sahabatnya, Fifi Maukar, mengunjungi kakak Fifi di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Si kakak, Letnan Udara II Daniel Alexander Maukar, dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Angkatan Udara gara-gara pada 9 Maret 1960, dengan pesawat Mig-17, memberondong Istana Merdeka, Istana Bogor, serta kompleks kilang minyak Tanjung Priok. Dari beberapa kali kunjungan, Rima jatuh hati kepada Daniel. Ia tergerak untuk memohonkan keringanan hukuman kepada Kepala Negara, selagi ia punya kemudahan untuk bertemu.

    Kepada Bung Karno Rima mengutarakan maksudnya, dan dijawab dengan pertanyaan, “Apakah dia menyesal?”

    Karena Rima tidak tahu, keesokan harinya ia kembali ke Cipinang untuk bertanya. Kemudian Rima menemui Bung Karno lagi dan bilang bahwa Daniel menyesal. Maka Bung Karno menyarankan agar Daniel membuat surat permohonan. Maksudnya agar Bung Karno memiliki pegangan tertulis untuk memberi grasi.

    “Eh, sialnya, Daniel enggak mau tulis surat. Saya jadi benci dia,” Rima bicara dalam nada tinggi.

  4. #3
    Tamu Baik
    Reputation
    Luna Maya's Avatar
    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    269
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    834.35
    Level
    10
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    10.38%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 200 Posts!
    Rep Power
    4
    Sorry, please register/login first to see this image


    Aku dituduh pemburu cinta

    “Aku menyukai gadis-gadis yang menarik di sekelilingku, karena gadis-gadis ini bagiku tak ubahnya seperti kembang yang sedang mekar dan aku senang memandangi kembang.” Itulah salah satu pengakuan jujur Bung Karno tentang wanita kepada Cindy Adams, wartawati Amerika yang akhirnya disetujui BK untuk menulis biografinya berjudul Bung Karno, Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (1966).

    Pengakuan itu muncul karena BK merasa terus jadi bulan-bulanan pers Barat, terutama Amerika Serikat, yang selalu menggambarkan dirinya sebagai sang pemburu cinta. “Majalah Tuan, Time dan Life terutama, sangat kurang ajar terhadap saya. Coba pikir, Time menulis, ‘Soekarno tidak bisa melihat rok wanita tanpa bernafsu’. Selalu mereka menulis yang jelek-jelek. Tidak pernah hal-hal yang baik yang telah saya kerjakan,” tutur BK kepada John F. Kennedy, Presiden Amerika, saat berkunjung ke negeri itu.

    “Ya, ya, ya, aku mencintai wanita. Ya, itu kuakui. Akan tetapi aku bukanlah seorang anak pelesiran sebagaimana mereka tuduhkan padaku,” tuturnya kepada Cindy.

    Tahun 1961 BK sakit keras. Di Wina, Austria, para ahli mengeluarkan batu dari ginjalnya. Waktu itu perjuangan merebut kembali Irian Barat sedang memuncak. Maka itu para dokter melakukan perawatan lebih teliti terhadap BK. “Jangan khawatir, Presiden Soekarno, kami akan memberikan perawat-perawat yang berpengalaman untuk menjaga Tuan,” kata mereka.

    “Ketika hal itu disampaikan kepadaku, keadaanku menjadi lebih payah daripada sewaktu aku mula-mula masuk. Aku tahu apa yang akan kuhadapi….aku berpikir dalam hati, ‘Aku akan lebih cepat sembuh dengan gadis-gadis perawat yang tidak berpengalaman, karena yang sudah punya pengalaman 40 tahun tentu setidaknya sekarang sudah berumur 55!” ungkap BK.

    Orang juga mengatakan, Soekarno suka melihat perempuan cantik dengan sudut matanya. “Itu enggak benar. Soekarno suka memandangi perempuan cantik dengan seluruh bola matanya…ini bukanlah suatu kejahatan…bukan suatu dosa atau tidak sopan kalau seseorang mengagumi perempuan cantik. Dan aku tidak malu berbuat begitu, karena dengan melakukan itu pada hakekatnya aku memuji Tuhan dan memuji apa yang telah diciptakan-Nya. Aku hanya seorang pencinta kecantikan yang luar biasa. Aku mengumpulkan benda-benda perunggu karya seni dari Budapest, seni pualam dari Italia, lukisan dari segala penjuru…,” ungkap BK.

    Apakah seorang BK memang ditadirkan sebagai pencinta kecantikan yang luar biasa, entahlah. Yang jelas, saat beranjak menjadi ABG (anak baru gede) berumur 14 tahun, BK sempat mabuk kepayang pada seorang gadis Belanda bernama Rika Meelhuysen, teman sekolahnya di Europeesche Lagere School.

    “Rika adalah gadis pertama yang kucium…aku sangat gugup waktu itu…Tapi, aduh, aku mencintai gadis itu mati-matian….Aku membawakan buku-bukunya, aku dengan sengaja berjalan melalui rumahnya, karena mengharapkan sekilas pandang dari dia…Cintaku ini kusimpan dalam kalbuku. Aku…takut ketahuan oleh orangtuaku. Aku yakin, bapak akan sangat marah kepadaku sekiranya ia mendengarku bergaul dengan anak gadis kulit putih.”

    Pada suatu sore BK berjalan-jalan naik sepeda dengan Rika. Ketika membelok di ujung jalan gang, mereka menabrak ayah BK. BK menggigil ketakutan….Sejam kemudian BK menyusup masuk rumah dalam keadaan masih terguncang. Ayahnya segera mendekati dia dan berkata,

    “Nak, jangan kau takut tentang perasaanku terhadap teman perempuanmu itu. Itu baik sekali. Pendeknya, hanya dengan jalan itu engkau dapat memperbaiki bahasa Belandamu!”



    Biarlah menjadi sejarah

    Kharisma Bung Karno yang besar acap kali menutupi kelemahannya. Misalnya soal kaum wanita di sekitarnya, termasuk beberapa yang diperistri.

    Mantan bintang film yang kini bergerak dalam usaha freight forwarding sekaligus aktivis yayasan sosial, Gabrielle (Gaby) Mambo (60), awalnya kecewa karena Bung Karno menikah lagi. Namun belakangan ia maklum, karena itu kenyataan yang acap dialami tokoh-tokoh besar lain.

    Menjelang 1960-an Gaby beberapa kali ikut dalam acara di istana. Sebagai anggota kelompok yang tubuhnya paling kecil, ia selalu berdiri paling belakang. Rupanya, Bung Karno menangkap ketakutan Gaby.

    “Saya malah dipanggil, disuruh mendekat, dan kadang disuruh cium pipi,” cerita Gaby.

    Justru karena merasa dipandang agak khusus oleh Bung Karno, lama-kelamaan Gaby tidak minder lagi. Ia merasa dekat.

    “Hebatnya Bung Karno, sekalipun tahu saya takut, beliau tidak lantas nakal atau kurang ajar. Saya tetap dihormatinya, diperlakukan seperti anaknya.”

    Tahun 1961-1966 Gaby sekolah desain interior di Jepang. Di masa-masa itu ia sering bertemu ketika Bung Karno berkunjung ke Jepang.

    “Dalam perjamuan dengan Ratna Sari Dewi, saya sering kebagian tugas membuatkan teh untuk Bung Karno. Saya hapal beliau tidak mau pakai gula, tetapi sakarin,” kenang Gaby.

    Namun sekembalinya Gaby ke Indonesia, situasi telah banyak berubah. Ia tak pernah lagi bertemu dengan Bung Karno. Demikian pula Mien Soedarpo, Rima Melati, dan Titiek Puspa, tak lagi menyanyi untuk Bung Karno.

    “Betapa baiknya Bung Karno, saya tidak percaya beliau dianggap jahat atau terlibat dalam kejahatan,” kata Rima Melati.

    Memang banyak faktor politik yang terjadi dan mengubah situasi, namun tak cukup meyakinkan Rima Melati, Titiek Puspa, Mien Soedarpo, atau Gaby Mambo bahwa Bung Karno bersalah.

    Tapi itulah sejarah. Titiek Puspa mengatakan, “Kalau dihitung plus-minusnya, perhatian dan jiwa raga yang diberikan kepada negara jauh lebih besar dibandingkan dengan kesalahan atau kelemahannya.”

    Sementara Gaby Mambo menanggapi, “Nobody’s perfect. Yang penting dia berbuat sangat banyak untuk negara ini.”



    Makanan rohani

    Apakah Cindy Adams dipilih menjadi penulis biografi Bung Karno, semata-mata karena ia wanita? Cindy sendiri tidak menafikkan kemungkinan itu. Kerupawanan wartawati kantor berita North American Newspaper Alliance (NANA) ini sekelas foto model. Cindy, wanita yang karena latar belakang budaya maupun profesinya sebagai wartawan politik, terbiasa berbicara langsung, menggelitik, bahkan mengkritik, merekam pengamatannya atas diri BK dengan sentuhan-sentuhan humor yang cerdas Soekarno My Friend (1971).

    Dalam bab berjudul “Soekarno The Big Bapak”, ditulisnya: Seorang seniman jarang pandai dalam hal bisnis. Soekarno itu seniman. Orang yang punya visi. Ia melukis mimpi-mimpinya dengan kata-kata….

    Pada dasarnya Soekarno meyakini bahwa untuk membangun suatu bangsa rakyatnya harus dibangun dulu. Sebagai penyatu heterogenitas rakyatnya, ia telah memberikan satu bangsa, satu bendera, satu bahasa. Karena belum bisa menurunkan harga barang-barang dan meningkatkan kesejahteraan, sebagai gantinya ia berikan kepada rakyatnya tulang punggung dan kemampuan untuk bersatu teguh dalam nasionalisme yang masih baru dalam perang merebut Irian. Didesainnya monumen berlapis emas dan gedung pencakar langit. Digunakannya bantuan dari Rusia untuk membangun stadion dengan atap melingkar untuk sebuah bangsa yang masih belum mampu untuk membeli tiket pameran. Dipakainya bantuan Amerika untuk membangun jalan layang berbentuk daun semanggi untuk rakyat yang (sebagian besar) masih mengendarai gerobak sapi.

    Soekarno mengatakan kepada saya, “Walaupun rakyat saya kelaparan, saya tetap akan menggunakan $2,50 dari tiap $5.00 untuk memberi makanan rohani bagi mereka.”

    Tentu selalu ada pemikiran yang berpendapat bahwa barangkali rohaninya sendirilah yang membutuhkan makanan. Namun dalam pemikiran Soekarno, dia dan Indonesia adalah satu. Tak terpisahkan. Apa pun yang memuliakan dirinya, akan memuliakan negaranya.

    Cindy memang pandai sekali mengemas kritiknya. Namun lebih banyak Cindy memotret sebuah pribadi yang amat manusiawi, yang penuh kehangatan dan jauh dari hipokrisi. Misalnya, pada perkenalan mereka yang pertama dalam sebuah wawancara, pertanyaan pertamanya, “Sir, mengapa Anda selalu mengenakan seragam?” yang dijawab BK dengan panjang lebar bahwa rakyatnya membutuhkan simbol autoritas.

    Namun Cindy dengan gaya Amerikanya yang santai mengomentari, “I don’t think so, honey. Saya rasa Anda mengenakan itu karena Anda tahu Anda tampak gagah sekali.” Tentu saja BK terperangah. Ia tidak terbiasa mendapat jawaban demikian. Lalu pecah tawanya sambil mengatakan, “You’re right, but don’t tell anybody.”

  5. #4
    Tamu Baik
    Reputation
    Luna Maya's Avatar
    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    269
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    834.35
    Level
    10
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    10.38%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 200 Posts!
    Rep Power
    4

    Berlenso Cha Cha Bersama BK

    Sorry, please register/login first to see this image


    Agak berbeda dengan tokoh-tokoh seangkatannya, dalam hal pergaulan, Bung Karno sama sekali tidak pernah berdansa ball-room. Satu-satunya tarian pergaulan Bung Karno adalah tari lenso dengan iringan musik berirama tetap: cha-cha. Bahkan, Bung Karno memiliki grup musik pengiring sendiri, yang terdiri atas anggota DKP (Detasemen Kawal Pribadi)… ya… pasukan pengawal presiden.

    Mereka, di bawah komando Mangil, kebetulan memang bisa memainkan musik. Maka, dalam tugas mengawal BK bertugas ke mana pun, anggota DKP tidak pernah lupa membawa peralatan musik. Mereka harus siap seandainya di luar jadwal resmi, tiba-tiba Presidennya menghendaki ada acara ramah tamah ditambah selingan melantai. Itu salah satu kegemaran Bung Karno. Dia bisa dua-tiga jam nonstop melantai dengan berganti-ganti pasangan wanita.

    Sorry, please register/login first to see this image


    BK Menari dengan MegaSempat, para pengiring mencoba mengubah irama musik, karena merasa bosan memainkan jenis musik dan lagu yang sama berjam-jam… bahkan bertahun-tahun selama mereka menjadi pengawal pribadi Bung Karno. Irama yang baru itu, menurut para pemusik, tetap enak jika dipakai melantai dan berlenso. Apa yang terjadi? Seketika Bung Karno pasti membentak tidak setuju, dan memerintahkan kembali ke irama semula. Beberapa saat berlalu, upaya mengganti irama masih dilakukan, sekali-dua. Respon Bung Karno? Sama, melotot dan memerintahkan kembali ke irama cha-cha. Sejak itu, mereka tak pernah lagi mengubah irama musik setiap mengiringi Bung Karno menari lenso.

    Menurut ajudan Bung Karno, Bambang Widjanarko, hobinya menari lenso, pernah ditunjukkan secara ekstrem di Roma, Italia. Tersebutlah dalam suatu kunjungan, BK diundang seseorang yang terpandang di Roma, untuk dijamu di kediamannya pada malam hari. BK dan rombongan datang memenuhi undangan itu. Rombongan Bung Karno disambut hangat oleh tuan rumah. Suasana tampak megah. Semua tamu berbusana resmi, dengan para wanitanya bergaun panjang yang anggun.

    Usai ramah-tamah, acara dilanjutkan makan-minum dalam suasana galmour ala Eropa. Tak lama setelah jamuan makan malam selesai, hadirin diajak ke ruang ball-room yang luas, lengkap dengan sekelompok pemusik yang segera mengalunkan irama waltz. Para tetamu, berpasang-pasangan, segera melantai dengan anggun, memutar ke kiri mengitari ruangan sesuai aturan berdansa ball-room. Saat itu, Bung Karno tetap duduk dan berbincang-bincang dengan tuan rumah.

    Pengawal membatin, “Kali ini Bung Karno kena batunya. Terpaksa ia hanya duduk melihat orang-orang berdansa, sebab dia sendiri tidak bisa berdansa ball room.”


    Sorry, please register/login first to see this image


    Bukan Bung Karno kalau tidak bikin kejutan. Selesai lagu pertama dimainkan, tiba-tiba Bung Karno berdiri dan memerintahkan protokol, pengawal pribadi, dan ajudan agar segera mengambil oper alat musik, dan memainkan irama cha-cha. Yang diperintah, segera menghambur ke arah grup musik, dan mengambil alih aneka instrumen musik, dan… mengalirlah lantunan nada-nada gembira berirama cha-cha.

    Bung Karno? Ia segera melenso bersama tamu yang lain. Sampai acara selesai, musisi Italia tadi tidak pernah duduk kembali di kursinya. Irama waltz yang mereka mainkan, adalah lagu pertama dan terakhir. Selanjutnya, seniman seadanya itulah yang mengisi acara santai sampai bubar. Iramanya? Cha-cha… dan hanya cha-cha saja.

  6. #5
    Tamu Baik
    Reputation
    Luna Maya's Avatar
    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    269
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    834.35
    Level
    10
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    10.38%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 200 Posts!
    Rep Power
    4

    Rahasia Terbesar Hartini Sukarno

    Dengar ungkapan Hartini tentang Bung Karno. Coba renungkan dalam-dalam kata demi kata berikut:

    “Saya cinta pada orangnya, pada Bung Karno-nya, bukan pada presidennya…. Saya akan perlihatkan kepada masyarakat, bahwa saya bisa setia, dan akan mendampingi Bung Karno dalam keadaan apa pun, juga dalam kedudukannya. Dan saya (Hartini), telah membuktikannya.”

    Sorry, please register/login first to see this image


    [IMG]Begitulah Hartini, yang bernama lengkap Siti Suhartini, wanita lembut, bergerak-gerik anggun. Ia, begitu dipuja oleh Bung Karno. Ia begitu dimanja oleh Bung Karno. Ia, begitu dibanggakan oleh Bung Karno. Kita boleh menebak, apa gerangan yang membuat Hartini begitu istimewa? Bahkan Bung Karno bergeming menyunting Hartini, meski hal itu mengakibatkan Fatmawati meninggalkannya. Dalam buku Srihana-Srihani, Biografi Hartini Sukarno, ia mengemukakan salah satu rahasia terbesar, mengapa Bung Karno begitu mencintainya. Ada banyak rahasia besar tentunya, dalam konteks hubungan lelaki dan perempuan. Akan tetapi, tentu saja tidak semua bisa dibagi. Alhasil, ia membagi satu saja rahasia buat kita, yakni ihwal kebiasaannya bertutur kata lembut, halus kepada Bung Karno. Ia, dalam keadaan santai, resmi, atau saat-saat memadu cinta, tetap menggunakan bahasa Jawa srata tertinggi yang disebut “kromo inggil”. “Di situlah kelebihan saya,” kata Hartini suatu hari, seraya melanjutkan, “Mana ada orang sedang intim, masih juga ber-kromo inggil. Ini rahasia terbesar yang pernah saya buka. Sebaliknya, Bapak sendiri amat memperhatikan kepentingan wanita. Sama sekali tidak egois.” Selebihnya, Hartini benar-benar mengabdikan diri sebagai seorang istri bagi lelaki Jawa dengan watak-watak khas. Watak-watak lelaki Jawa yang umumnya manja, suka dilayani bukan saja dalam hal fisik, tetapi juga perasaannya. Itu semua didapatkan dengan sempurna dari seorang Hartini.[/IMG]

  7. #6
    Tamu Baik
    Reputation
    Luna Maya's Avatar
    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    269
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    834.35
    Level
    10
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    10.38%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 200 Posts!
    Rep Power
    4

    Guntur Soekarno Bertutur

    Intisari, Oktober 1998

    Sorry, please register/login first to see this image

    BUNG KARNO dan Ratna Sari Dewi

    Dari semua buku perihal mantan Presiden Soekarno (Blitar 6 Juni 1901 – Jakarta 21 Juni 1970), mungkin buku Guntur Soekarno ini paling unik dan menarik. Buku kecil Bung Karno Bapakku-Kawanku-Guruku, tulisan putera sulungnya, meski bertutur ringan, anekdotik dan berbahasa populer, buku ini ternyata mampu menguak lebih jauh sisi kehidupan Bung Karno sebagai manusia, lelaki, pemimpin dan kepala keluarga.

    Juga Soekarno sebagai orang biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa, namun “luar biasa”, seperti ulasan ini.

    Dis, gimana kabarnya Istana? … Ada hindul-hindul yang nyelundup masuk nggak?

    + Kayakya sih nggak; pada ngeri kali … gara-gara Mas labrak si Deweh (Deweh maksudnya Dewi) … Eh, Gun tapinya ya, aku sekarang ini di Istana agak curiga sama satu orang deh … Aku takut, jangan-jangan Bapak naksir nantinya kan hindul-hindul markindul bisa jadi nambah …

    Ngomong-ngomong cakepnya seberapa sih Dis? Cakep mana sama Dewi?

    Kutipan kalimat di atas, merupakan salah satu tulisan Guntur berjudul “Bung Karno Kontra C.I.A“. Dalam buku berukuran 11 x 18 cm2 setebal 256 halaman, berisi sekitar 25 judul kecil serta puluhan foto eksklusif. Guntur menulis dengan gaya “aku” bertutur, serta beberan kalimat langsung, serta anotasi, misalnya “Waktu: 1962-1964, Tempat: Istana Merdeka, Yang Hadir: Bung Karno, Megawati, ajudan, aku.”

    Nilai utama buku eksklusif terbitan PT. Delta – Rohita ini, terbaca dalam tuturan Guntur perihal hubungan intim antarwarga keluarga Bung Karno. Siapa yang tahu kalau Megawati Soekarnoputri, ternyata bernama panggilan Gadis atau Adis. Ibu Fatmawati sebagai first lady dan ibu lima anak, masih sering berkata-kata dengan dialek bahasa Melayu Bengkulu.
    mega-sukarno-guntur

    Sorry, please register/login first to see this image

    BUNG KARNO dan anak-anak.

    Guntur yang dipanggil “Gun” sama Mega, atau bernama akrab Mas Tok, ternyata dipanggil “Jang” alias Bujang oleh sang bunda. Uniknya, keluarga Soekarno ini ada kata sandi khusus untuk “buang air besar”, yakni “o-ok”.

    Kalau “hindul-hindul markindul”, merupakan kata sandi untuk isteri muda Soekarno, terutama gelar untuk Deweh alias Ratna Dewi yang hindul markindul asal Jepangnya Bung Karno. Hampir tiap peristiwa, Guntur berupaya mengenang kembali ingatannya, terutama masalah kutipan langsung pembicaraan sang bapak.

    Sebagai pemimpin besar bangsa Indonesia, Bung Karno terbaca amat piawai berkomunikasi dalam berbagai bahasa asing, juga berbahasa daerah. Selain berbahasa Jawa, Soekarno senang memakai bahasa Sunda untuk berbicara dan mendamprat staf rumah tangga istana.

    Misalnya dalam tulisan “Saro’i The Great”, ada kata-kata Bung Karno kepada Saro’i – pengemudi keluarga Soekarno: “Nya! Geus dimaafkeun, umpama keur ngajar Guntur nubruk taneman Bapak jeung tembok istana make mobil! (Ya, sudah dimaafkan, misalnya waktu mengajar Guntur nabrak tanaman Bapak dan tembok istana)”.

    Kentuti PBB Bung Karno yang berhobi berat makan durian, tapi tak suka makan petai dan jengkol, karena kalau “ki’ih” (kencing-red) akan berbau. Namun Ir Soekarno suka lagu klasik Italia. Khususnya kalau beranjangsana ke Italia, Soekarno selaku kepala negara RI tak segan ikut mementang suaranya melagukan “O Sole Mio”, bersama pelayan hotel. Sampai-sampai Guntur pun menjuluki bapaknya The Great Caruso.
    fatwati-guntur-sukarno

    Sorry, please register/login first to see this image

    FATMAWATI, Guntur dan Bung Karno, 11 Maret 1946. Foto:Bettmann/CORBIS

    Sebagai putra sulung, Guntur rupanya paling banyak sering mendapat kesempatan belajar langsung dari ayahnya. Apalagi selewatnya masa akil baliknya Guntur, si anak pertama ini tak cuma diindoktrinasikan soal paham negara RI yang anti berat sama neokolonialisme dan imperialisme, tapi juga soal “isme-isme” lainnya, termasuk wanita cantik.

    Misalnya sekali waktu, Bung Karno berdiskusi soal wanita cantik di obyek lukisannya:
    sepotong-kain-merah

    Sorry, please register/login first to see this image

    SEPOTONG kain merah, lukisan koleksi Bung Karno.

    + … perhatikan sorot matanya … belum lagi bentuk hidung dan bibirnya … apa pernah lihat bentuk yang secantik ini … potongannya bagaimana? Ini ia punya bentuk tubuh maksudku … Ini figur puteri Solo asli! Pernah punya pacar orang Solo? … Kalau mau cari pacar orang Solo, figurnya harus seperti ini … baru namanya cantik …

    Memangnya dia siapa sih Pak?

    + Ho, ho rahasia! … Pendek kata cantik tidak? … boleh bandingkan dengan pacar-pacarmu, kalau memang kau punya!

    Si Mas Tok ini, menuturkan pula bagaimana dirinya tak jarang menjadi sekretaris istimewa, atau pelayan perpustakaan kepresidenan. terutama di saat Soekarno sedang mepersiapkan pidato kenegaraannya. Sang Bapak selalu memamnggil Mas Tok, seraya menyebut nama penulis atau judul buku, hingga Guntur harus pontang-panting menyiapkan buku referensi bagi bapak tercintanya.

    Meja makan merupakan arena paling akrab untuk keluarga besar Soekarno. Seusai makan, keluarga presiden ini biadsanya melahap bebuahan segar dan manis, terutama di musim rambutan dan durian. Untuk buah berduri ini, Guntur mengisahkan betapa bapaknya pernah mengajarkan teori memilih durian.

    + Jadi Bapak ulangi! Satu! … periksa tangkainya. Dua! … lihat duri-durinya. Tiga! … cium baunya dari sebelah pantat. Kalau ketiga-tiganya baik itu tandanya durennya jempolan! Nanti kau bisa buktikan setelah duren-durennya ini Bapak pilih terlebih dahulu …

    Yaaa Pak! Kok durennya bosooookk! Duiiillaaahh! Gimana sih Bapak milihnya?
    + Ndak tahulah! Sekali ini Bapak meleset pilih duren! Uh … ini duren mungkin jenis baru …
    Emangnya jenis apa Pak?
    + Jenis duren … kontra revolusi!

    Tampak sekali, Presiden pertama RI yang di dunia internasional disegani, karena sikap dan ucapannya yang keras soal kolonialisme dan imperialisme, serta dinilai sebagai pemimpin besar yang gandrung akan persatuan dan kesatuan, serta getol menanamkan sikap patriotisme dan nasionalisme bagi rakyatnya.

    Guntur sebagai “sparring partner” Bung Karno, tentu tak lepas dari persoalan beginian. Meski di hadapan anaknya, Soekarno memiliki cara dan gaya diskusi tersendiri. Tak jarang Bung Karno meledakkan emosinya, sambil melampiaskan juga perasaannya yang tak mungkin diumbar di muka umum. Sekali waktu (dalam judul “Penyelundup Senjata”), Bung Karno mengisahkan kepada Guntur, soal peranan RI dalam membantu kemerdekaan Aljazair, seusai acara makan duren.

    + Eh aku mau kasih tahu, kalau hari Sabtu jangan makan duren. Dus malam Minggu; pasti pacarmu nggak mau kau cium, karena kau bau duren … ngerti?! Kok Bapak kelihatannya seneng bener? Ada apa sih?

    Lalu Soekarno menuturkan peranan RI, sambil menyebut berita ini “top secret” kelas A. Katanya, RI bukan cuma memberi dukungan diplomatik terhadap Aljazair, malah pernah membantu dengan menyelundupkan senapan.

    Kalau waktu itu misalnya ketahuan gimana Pak? Dunia kan geger!
    + Ya biar saja geger, aku ndak rewes (ndak rewes = ndak peduli) … Aku tidak feeerduliii! Buat Bapak kalau urusan membantu kemerdekaan satu bangsa, hanya satu yang bisa melarang … Tuhan! Lain tidak! Tahu kau! (Bapak melotot kepadaku sambil memukul-mukul meja dengan tinjunya) … Ayoooo … mau apa! PBB mau kutak-kutik? Mau tahu akan aku apakan PBB? Tahu ndaaakk?! … PBB Bapak akan beginikan ….

    Tiba-tiba dari bawah meja terdengar suara … duuuut … duuut … breeettt!

    Hiih! … Bapak kentut ya!
    + Ya! … aku akan kentuti PBB kalau mereka berani turut campur urusan orang merebut kemerdekaan!!

  8. Thanks Gundala Petir, STAIRWAYtoHEAVEN thanked for this post.
  9. #7
    Tamu Baik
    Reputation
    Luna Maya's Avatar
    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    269
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    834.35
    Level
    10
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    10.38%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 200 Posts!
    Rep Power
    4

    Granat Maut

    Dalam tuturan Guntur, ada peristiwa besar yang dituturkan begitu hangat dan penuh rasa kemanusiaan. Tahun 1957 ada peristiwa besar yangdisebut Peristiwa Cikini 1957. Saat itu, Soekarno yang Presiden RI, nyaris terenggut maut akibat ledakan granat.

    Guntur menuturkan tanpa menghujat oknum pelempar granat. Si Mas Tok juga tidak berapi-api dan sensasional, mengisahkan pengalaman buruknya. Bahkan tuturannya terasa intim.

    Yayasan Perguruan Cikini tempat di mana aku bersekolah mengadakan perayaan hari ulang tahunnya (lupa yang ke berapa) … orangtua murid diundang untuk menghadirinya, termasuk Bapakku …

    Pak, Bapak jadi datang ke bazaar di sekolahku nggak?
    + Yo … Insya Allah. Apa acaranya di sana? … Kau punya lukisan dipamerkan ndak?

    Waktu pergi ke bazaar, Bapak mengendarai mobil kepresidenan Chrysler Crown Imperial; Indonesia 1; hadiah dari Raja Saudi Arabia: Ibnu Saud, dengan iringan konvoi kepresidenan yang terdiri dari sepeda motor polisi lalu lintas; jeep pengawal dari Corps Polisi Militer, jeep pengawal dari Detasemen Kawal Pribadi Presiden dan mobil-mobil rombongan lainnya.

    Bapak langsung melihat-lihat stand di bazaar … Aku yang kurang tertarik pada urusan pamer memamer … langsung ngacir mencari stand-stand yang berisi permainan ketangkasan … Kak Ngatijo yaitu kakak pengawal yang bertugas mengawalku saat itu, benar-benar kewalahan dalam mendapingiku … Dari atas aku melihat rombongan Bapak yang sedang bersiap-siap untuk pulang … Ketika aku sedang menghirup sebotol limun kudengar derum suara motor dari pengawal … tak lama kemudian tiba-tiba kudengar ledakan yang cukup dahsyat … Bledeeeerrrr!

    Sekilas aku berfikir, akh ini tentunya suara knalpot motor dari kakak-kakak polisi … maklum waktu itu motor-motor yang digunakan adalah Harley Davidson model “tuek”! Tetapi beberapa detik kemudian … Bledeeerr! … Bledeeerr! Terdengar 3-4 kali ledakan lagi.

    Kemudian suasana benar-benar jadi panik dan semrawut sungsang-sumbel … setelah aku dapat menguasai lagi rasa takutku dan emosi … cepat-cepat aku melompat masuk di antara sela-sela tumpukan peti botol limun di kolong meja …
    Kak … saya di sini!
    + Aduuuh! Kakak cari kemana-mana jebulnya di sini. Ayo Mas, cepat pulang! Cepat pulang.
    Bapak di mana Kak?
    + Belum tahu juga Mas! Tugas Kakak menyelamatkan Mas dulu ke rumah.
    Aku “diseret” secepat kilat … ke mobilku B-5353.
    + Ya Allah …Hayo buruan masuk mobil, kita berangkat dah!
    Eh Pak Ro’i nggak apa-apa?
    + Alhamdulilah Mas! Gatotkaca mah nggak mempan pelor! … Mas lebih baik tiduran saja di belakang … tiarap saja dah; nggak usah lihat jalanan. Biar pak Ro’i geber ini mobil, biar larinya kayak setaaann!

    Sesampainya di Istana … begitu turun dari mobil, aku cepat ngibrit ke kamar Bapak … ternyata Bapak tidak ada di situ … jangan-jangan Bapak tewas kena granat dan aku sekarang jadi anak yatim …tiba-tiba dari kejauhan seseorang berteriak “Saiinnn … Saiinnn … kadieu (ke mari)

    Lho itu kan suara Bapak!

    Secepat kilat aku kabur ke kamar Bapak ,,, di tengah jalan bertubrukan dengan Pak Saiin … bummm! Pak Saiin yang sudah reyot itu (umurnya 70 tahunan) terkapar di lantai …
    Bapak nggak apa-apa?
    + Alhamdulillah. Tuhan masih melindungi Bapak … Syukur, Adis gimana?
    Apa Bapak kena?
    + Ini apa (sambil menunjuk lukanya di lengan) … Tapi bukan kena grabat! Kena kawat duri! Ho ho ho … Waktu mbrobos pager rumah di depan sekolahmu, aku kecantol kawat durinya. Bapak disembunyikan oleh Kak Dijo dan Oding … mereka melindungi Bapak dengan badannya … Oding ternyata kena granat di pahanya … Bapak kembali ke Istana dengan naik mobil lain, karena ternyata Chrysler yang dari Pak Ibnu Saud kena granat dan mogok.

    Bapak takut nggak?
    + Bapak pasrah terserah kehendak Tuhan … kasihan mereka-mereka yang tak berdosa ikut jadi korban … sudahlah, hayo Tok, Bapak musti siap-siap untuk … pers conference … Kapan-kapam kau tengok Kak Ngatijono, sampaikan terima kasih dari Bapak.

  10. Thanks STAIRWAYtoHEAVEN thanked for this post.
    Like , STAIRWAYtoHEAVEN liked this post.
  11. #8
    Tamu Baik
    Reputation
    Luna Maya's Avatar
    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    269
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    834.35
    Level
    10
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    10.38%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 200 Posts!
    Rep Power
    4

    Kencing Sembarangan

    Beberapa pengalaman Guntur dari balik layar kepresidenan Soekarno, amatlah menarik dan mengundang senyum. Bung Karno di saatnya jaya, selain dianggap banyak pihak sebagai “super hero”, juga disegani sebagai macan podium.

    Dari beberapa judul kisah Guntur dalam buku saku ini, Soekarno tergambar sebagai manusia penuh gairah, malah kadang-kadang juga berakal nakal.
    Suatu saat (Guntur menulis “persisnya lupa”), Bung Karno keasyikan mengorek kuku kakinya, hingga ujung jarinya terkelupas dan berdarah. Lukanya dianggap tak serius, dibiarkan saja tanpa pengobatan.


    Sorry, please register/login first to see this image

    BUNG KARNO dan Nikita Khrushchev di Bali, Februari 1960. Foto: LIFE/John Dominis

    Beberapa hari kemudian, luka lecet itu terasa “senut-senut” infeksi. Makin lama makin bengkak, akibatnya Bung Karno sulit berjalan normal. Langkahnya harus berjingkat-jingkat. Yang pasti pada saat itu tidak seorang pun berani tertawa, termasuk aku sendiri!

    Pak jalannya kenapa pincang?
    + Jempolnya bengkak … Bapak ingin segera sembuh. Kau tahu empat hari lagi, aku harus terima surat kepercayaan duta besar asing!

    Pada suatu sore … Pak Adung menemui aku.
    + Mas, Pak Adung mau pinjam gunting, ada? Buat bikin lobang!
    Mangga wae (silakan saja) … buat apa sih Pak Adung?
    + Buat ngebolongin karet … Bapak yang suruh.
    Karet buat apa?
    + Eh … itu Mas, sepatu tenis.

    … Waktu saat penerimaan Dubes akan dimulai, aku mengintip dari kamar untuk melihat Bapak memakai sepatu kepresidennya …. keluarlah Presiden R.I. dengan gagah dan tegapnya mengenakan kopiah hitam yang khas, jas pantalon kebesaran plus sederetan tanda-tanda jasa … tidak ketinggalan stock komando kepresidenan … dan yang paling bawah … sepatu tenis yang salah satu ujungnya bolong di mana tersembul ibu jari Bapak yang dibalut perban!

    Tuturan Guntur soal bapaknya, makin terasa intim dan di luar dugaan umum. Sebab sosok Presiden Soekarno itu kharismatik sebagai proklamator dan “founding father”-nya bangsa Indonesia, ternyata dalam kehidupan biasanya sering terjadi hal-hal biasa, namun luar biasa bagi orang biasa.

    Sebagai contoh, siapa menduga, kalau Bung Karno yang perlente, tahu etiket dan terbiasa bergaul di kalangan atas, ternyata berperilaku macam orang kebanyakan. Misalnya contoh di bawah ini.

    SEMAK-SEMAK ISTANA MERDEKA – Waktu: 1964 – 1965. Tempat: Ruang duduk di teras belakang Istana Merdeka dan ruang duduk beranda depan kamar Bapak. Yang hadir: Bung Karno, beberapa tamu Dubes-dubes asing, beberapa Menteri Kabinet … dan aku.

    … Aku sedang berada di Jakarta dalam rangka mudik dari Bandung tempat kuliah (Guntur kuliah di Jurusan Mesin ITB – red) … aku duduk di korsi panjang dari rotan tempat Bapak selalu duduk baca koran … duduk di situ, kita bisa melihat taman yang membentang di belakang Istana Merdeka … di ujung tangga terdapat serumpun semak pohon ampelas-ampelasan … tiba-tiba dari ujung tangga kulihat Bapak turun dari beranda dan langsung masuk ke dalam semak tadi.

    Kemudian tak lamanya Bapak keluar dari dalam semak dan naik tangga pergi ke beranda lagi. Eh, tak berapa lama lagi-lagi Bapak ke dalam semak, bahkan sekarang kelihatan tergopoh-gopoh turunnya dari tangga … selesai mandi aku segera berpakaian dan buru-buru kembali duduk di beranda depan kamar Bapak, karena ingin kulihat apakah Bapak masih saja mundar-mandir masuk semak pohon ampelas lagi.

    Astaga! Ternyata masih demikian, begitu aku sampai di beranda aku lihat Bapak baru saja keluar dari dalam semak dan naik tangga … aku jadi penasaran dibuatnya!

    Pak … akun mau tanya.
    + Ya … soal apa?
    Aku perhatikan Bapak kok mundar-mandir saja masuk semak … rada aneh.
    + Ho ho … kau mau tahu? Aku kencing di situ!
    Kencinngg?
    + Yaaa. nguyuh! Ha ha ha (Bapak terbahak dan ngeloyor ke kamar)

    Bapak memilih semak daripada WC Istana yang indah, yaitu karena jarak antara beranda belakang tempat penerimaan tamu ke WC tamu yang tersedia sangat jauh, kurang lebih 40 m … jarak ke WC kamar mandi Bapak lebih jauh lagi, kurang lebih 50 m.

    Jarak ke WC kamar mandi adik-adikku dari beranda lebih jauh lagi, yaitu 70 m. Jadi logis kalau yang dipilih semak-semak dekat tangga, karena jaraknya hanya 5 m saja!

    … Ketika aku sudah kembali lagiu ke Bandung, dari adikku Mega aku mendapat kabar bahwa sekarang bukan hanya Bapak saja yang mempergunakan “W.C.” istimewa tadi, tapi juga para tamu-tamu dan para dubes-dubes asing!

    Bung Karno diam-dam suka kencing sembarangan. Tapi jarang yang tahu, kalau Soekarno penyayang binatang. Sebab di lingkungan istana, menurut Guntur tak ada burung peliharaan dalam sangkar.

    Sedangkan ikan hias memang ada dan hidup dalam akuarium. Menurut Guntur: … ikan-ikan dalam akuarium yang mendapatkan pelayanan dan servis luar biasa dari Bapak. Barang kali maksud Bapak agar ikan-ikan itu “betah” tinggal di dalam rumah barunya dan agar tak “kekurangan” suatu apa.

    Suatu hari (tertulis “antara tahun 1958-1959), Kepala RT Istana Cipanas, Oom Burger, seorang WN Swiss menghadiahkan Soekarno sepasang kambing. Guntur menulis, kalau tidak salah namanya “Si Manis” dan “Si Bandot”. Makin lama, kedua kambing ini makin kurang besar dan kurang ajar. Hingga Soekarno harus memperkerjakan gembala kambing, supaya “embek-embek” itu tidak melahap tanaman hias di halaman istana.

    Si Bandot dan partner tambah-tambah saja merajalela merusak tanaman … proyek officer dan pengasuh kambing kehabisan akal buat menjinakkan si Bandot dan si Manis, sehingga menghadaplah mereka-mereka itu tadi pada Bapak …

    Kami boleh usul apa Bandot dan Manis boleh kami ikat saja, agar jangan berkeliaran ke sana ke mari?
    + Ojo (jangan)!
    Lha … kados pundi Pak? Menapa mboten becik dipun sate kemawon Pak? Sampun lemu-lemu (Apa tidak lebih baik disate saja Pak, sudah gemuk-gemuk).?
    + Gendeng kowe (Gila kamu).

    Untuk beberapa saat, si Bandot dan Manis tidak lagi menimbulkan soal yang serius, paling-paling hanya mebuat Musli pengasuhnya lari pontang-panting mencegah mereka makan atau merusak tanaman … Persoalan timbul lagi, ketika si Bandot memasuki masa dewasanya … setiap benda ia seruduk, mobil parkir ditanduknya, pohon besar diterjang … yang paling lucu bila kita … disangkanya si Manis (Saat itu Bandot memang sedang hot-hotnya fall in love dengan Manis) … mbeeek! Si Bandot melompat menyeruduk!

    Si Bandot menghujam salah satu dari 10 pot antik yang berderet rapi di tangga, hingga berantakan. Akibatnya si bandot berhenti mengejar dan berdiri termanggu-manggu karena kepalanya puyeng … akibat soal ini terpaksalah proyek officer dan pengasuh para kambing menghadap Bapak.

    Pak kulo bade laporan (Pak saya mau laporan). Pot antik yang di tangga penjagaan depan, pecah diseruduk si Bandot.
    Dengan wajah merah padam, Bapak melirik kepadaku dan berkata:
    + Tok, kau setuju kalau si Bandot kita sembelih saja buat sate?

  12. Thanks STAIRWAYtoHEAVEN thanked for this post.
    Like STAIRWAYtoHEAVEN liked this post.
  13. #9
    Tamu Baik
    Reputation
    Luna Maya's Avatar
    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    269
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    834.35
    Level
    10
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    10.38%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 200 Posts!
    Rep Power
    4

    Jenderal Perang

    Masa kecil Guntur sebagai anak presiden, serta rumah tinggalnya di dalam kompleks istana, sungguh memberikan dunia tersendiri. Guntur menuturkan, dirinya sehari-hari bermain dengan anak-anak karyawan istana, tak peduli anak itu putranya pengemudi, koki, ataupun pelayan istana. Begitu juga saat Guntur memasuki usia remaja, teman bermainnya bertambah dan terutama anggota DKP (Detasemen Kawal Pribadi).

    Makanya tidak janggal kalau Guntur senang main perang-perangan, memakai helm asli, juga beranggotakan tentara asli. Sekali waktu Guntur mengajak “kakak-kakak” (panggilan khususnya terhadap anggota DKP) main perang-perangan. Saking asyiknya, Guntur hampior saja bikin setori panjang, seperti tuturannya berikut ini.

    Sekitar tahun 1957-58, Guntur meminta “kakak-kakak” DKP agar menyebutnya jenderal, bukan Mas Tok (begitu pangilan Guntur). Lalu jenderal ini mengajak prajuritnya main perang-perangan. Aturannya sederhana. Barang siapa yang ketahuan atau kelihatan, akan “didor” lebuh dahulu dan harus keluar gelanggang, karena tertembak “mati”. Tetapi jarak “ngedor” dan “didor” itu, tak boleh kurang dari 20 meter. Prajurit yang terlibat, sekitar 10 anggota DKP asal kesatuan Brimob. Gunyur memimpin pasukan I, sedangkan pasukan II dipimpin tentara asli.

    Medan palagan ini di halaman luas, antara Istana Merdeka dan Istana Negara. Tiap pasukan segera mempersiapkan dirinya, termasuk “Jenderal Bledek” Mas Tok Guntur Sukarno yang sudah mempersenjatai dirinya dengan pistol-pistolan, serta logistik buah segar tulen. Guntur pun melengkapi pasukannya dengan agen intelijen, Musli, gembala kambing istana. Perang pun dimulai, dipimpin Guntur yang mengenakan topi baja tentara asli.

    Sementara perang lagi memanas dan asyik, tiba-tiba komandan jaga istana berlari ke arah Guntur.

    + Mas Tok! Perangnya disetop dulu Mas. Cease fire, cease fire!
    Emangnya kenapa Kak?
    + Anu Mas … perwira piket telepon kasih tahu katanya … dari KMKB (semacam Kodam sekarang) menanyakan di istana ada apa, kok waktu KMKB patroli, mereka melihat pasukan pengawal mengambil posisi tempur di depan Istana Merdeka! Makanya lebih baik perang-perangannya distop dulu! Nanti Jakarta bisa gawat!
    Busyeeet! Mati gua! Kaaaak, hayo perangnya bubaaar!
    Waktu Bapak datang dari Bogor, aku dipanggilnya untuk ditanyai soal perang-perangan tadi.
    + Heh … Tok, aku dapat laporan kau bikin geger petugas keamanan Jakarta ya!? … keadaan gawat begini ndak usah main perang-perang dulu; nanti kalau keadaan sudah normal saja … Kau jadi jenderal ya waktu perang-perangan?
    Gitu deh
    + Ini Bapak punya buku bagus tentang jenderal. Bacalah! Dia adalah salah satu jenderal favorit Bapak … (Kulihat ternyata buku tadi tentang seorang jenderal berdarah Indian dari U.S. Cavalery yang terkenal, yaitu William “Tacum” Tacumseh Sherman).

    Sebagai anak presiden, jamak sekali kalau Guntur “berhak” merasakan fasilitas Bapaknya, tanpa berlebihan. Misalnya Guntur terus terang mengisahkan betapa dirinya belajar “nyupir” mobil, menggunakan mobil negara dengan guru pengemudi yang digaji negara.

    Sekiranya aku minta izin pun, aku toh tidak akan diizinkannya, mengingat umurku yang masihmuda (12 tahun) … tetapi akibat dorongan Pak Saro’i, akhirnya aku berani-beranikan juga.

    + Mas, kalau Mas kepengen nyetir, hayolah pak Ro’i ajarin!
    Nanti kalau ketahuan, Bapak marah!
    + Kite belajarnya kalu Bapak lagi ke Bogor, jangandienye ade di sini … wah bahaye!
    Kaki saya belon sampe buat injak pedal … saya masih kependekan buast ngeliat ke depan.
    + Itu mah gampang, ganjel pake bantal … beres!

    Sejak itu, setiap Bung Karno ke Bogor atau ke Istana Cipanas, Guntur bersekolah “nyetir” dengan guru istimewanya, Pak Saro’i – pengemudi yang melayani terus hingga Guntur lulus SLA. Lama kelamaan, Guntur makin jago mengemudi mobil istana.

    Pak Ro’i pun meningkatkan pelajarannya. Misalnya Guntur harus mengebut mobil Chrysler 1955, 6 silinder, B 5353 warna biru laut dengan kecepatan 50 km per jam, namun tak boleh injak rem, meski di tikungan sekalipun.
    Hadiah Ciuman Saat Guntur dewasa, menjelang kuliah di ITB.

    Pemuda ini mendapat mobil VW sport Kharman Ghia. Lama kelamaan Bung Karno mendapat kabar, kalau Guntur senang ngebut kendaraannya. Sekali waktu, sekitar tahun 1962, Bung Karno menegur Menteri Chaerul Saleh, karena dianggap suka bersama Guntur mengebut mobil keliling Jakarta.

    + Heeeh Rul Rul! Dia ini nyetir gila-gilaan lantaran kau! Begrijp je (mengerti kau)! Dikira aku tidak tahu? … kau dan Guntur suka balap-balapan di daerah Kebayoran … tukang-tukang becak di daerah Cikini semuanya lari ketakutan diserempet, kalau melihat mobil Kharman Ghia merah kepunyaan kalian! Kau ini memang terlalu Rul! Jij itu menteriku, jadi jangan ngros-boy!

    Begitulah kira-kira sikap Bung Karno, kalau menegur anaknya. Bagi Guntur, Soekarno sebagai bapaknya, memang figur lelaki yang disegani. Waktu Guntur lulus SMA tahun 1962, dia memiliki permintaan “kado” yang tak masuk akal.

    Dirinya tak berani mengucapkan langsung ke Bung Karno. Guntur lalu meminta jasa Ibu Fat, agar mengutarakan maksudnya.

    Bu, apa sudah bilang sama Bapak apa yang aku minta? Kapan Ibu ke istana? (Ibuku saat itu sudah keluar dari istana dan tinggal di Jl. Sriwijaya Kebayoran).
    + Luso lalu (lusa lalu, dialek Bengkulu).
    Marah nggak?
    + Kalo nyo berang idaklah salah. Bujanglah yang salah, minta yang idak-idak. Hapo … hapo kau ini Jang! (Kalau dia marah tidak salah, Bujanglah yang salah, minta yang tidak-tidak. Apa-apaan kau ini Jang!)

    Guntur akhirnya memberanikan diri, menghadap bapaknya.

    Pak!
    + Heh … kau. Selamat ya kau lulus. Berapa angkanya? Bagus apa jelek? … Ibu sudah bicara sama Bapak perkara keinginanmu. Bapak ndak bisa kasih izin buat itu. Bagaimanapun juga kau adalah anak Presiden R.I. Mintalah yang lain …

    Peraturan protokoler negara tak mengizinkan … Bapak sudah bicara dengan Sabur dan Mangil soal ini.

    Guntur yang kesal, segera mencari Letkol Sabur – ajudan Bung Karno. Mereka berdiskusi soal “hadiah” lulus SMA itu. Pembicaraan tak menemui titik akhir.

    Guntur yang semakin kesal, segera pergi ke mobilnya, seraya berteriak: “Pokoknya saya nggak mau dikawal lagiiii!”

    Rupanya Guntur dan adik-adiknya, sebagai anak presiden yang sejak kecil terus-terusan dikawal, sudah merasa bosan dan menganggap diawasi terlalu ketat. Merasa dirinya sudah lulus SMA, Guntur meminta satu hadiah …. tidak dikawal!
    Meski kecewa, Guntur masih berusaha memohon hal ini ke Soekarno. Akhirnya ia mendatangi lagi bapaknya.

    Pak, soal pengawalan itu apa masih tetap tidak boleh dihilangkan?
    + Kan Bapak sudah bilang itu tidak bisa. Mintalah hadiah yang lain! heh, ke mana kau mau teruskan sekolahmu?
    Terserah yang mana yang keterima … Akademi Angkatan Laut sama ITB Bandung.
    + … Semuanya bagus … Eh kenalkan Bapak sama pacarmu, aku ingin tahu cantik ndak … mengapa, dia minta putus? Kalian masih cinta monyet … Huah huah huah, alasan … kenapa kau tidak cium dia? Ho ho, kau terlalu! Kau jangan bikin malu aku!
    Ya … Pak. Tapi gimana aku mau cium dia di depan pengawal!
    + Ya memang saru ciuman ditonton orang (saru = tak sopan). Ya sudah begini saja, Bapak kasih kau hadiah lulus ujian … mulai bulan depan kau boleh ngeluyur tanpa pengawal! Nanti Bapak kasih tahu Sabur dan Mangil
    Terima kasih Pak ! (Sambil kabur keluar kamar).
    + Hey … bulan depan lapor soal cium tadi!
    Ya … Pak!

  14. Thanks STAIRWAYtoHEAVEN thanked for this post.
    Like STAIRWAYtoHEAVEN liked this post.
  15. #10
    Tamu Baik
    Reputation
    Luna Maya's Avatar
    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    269
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    834.35
    Level
    10
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    10.38%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 200 Posts!
    Rep Power
    4

    Inspeksi Tari Perut

    Beberapa tuturan Guntur secara khusus, memuat kejadian di luar negeri. Sebagai putra kebanggaan pemimpin bangsa, Guntur harus mematut dirinya kalau ikut ke luar negeri. Bahkan Guntur harus tahu basa-basi protokoler, hingga tata cara resepsi dan bangkuet kenegaraan.

    Meski terlatih dan terbiasa, tetap saja Guntur dan juga Megawati, paling tak tahan kalau harus menyantap makanan Eropa berupa campuran telur ikan kaviar, lengkap berikut saus dan bumbu keju.

    Bung Karno selaku bapak, mengajarkan Guntur cara menghindari sajian makanan kenegaraan. Tiap makanan yang sudah masuk mulut, lalu berpura-pura mengunyah dan segera keluarkan lagi dan disembunyikan di balik serbet. Kalau tamu dan tuan rumah lengah, serbet berisi makanan itu segera dibuang ke kolong meja.

    Dari pengalamannya berkeliling dunia ikut rombongan kenegaraan, Guntur pun memiliki pengalaman selama bergaul dengan pembesar Indonesia lainnya.

    Termasuk bergaul dengan jenderal berjengot lebat, Gatot Subroto.
    Waktu ikut rombongan K.T.T. Non-Blok di Beograd di Yugoslavia, Guntur sempat duduk di sebelah Gatot Subroto, meski kata Guntur, Oom Gatot senangnya tidur dalam pesawat.

    Saat upacara penyambutan kenegaraan di bandara, Guntur yang berdiri di samping Gatot Subroto, tak sabar dan bertanya.

    Oom upacaranya kok lama sekali? … saya sudah pegal berdiri nih.
    + Podo (sama).
    Mau buang air kecil nih.
    + Podo!
    WC-nya di mana ya Oom?
    + Hayo cari WC umum di dekat sini. Ikut saja sama Oom!
    Oom di mana WC-nya?
    + Lha ini apa (sambil menunjuk sebuah roda pesawat yang tingginya 1,5 m, terdiri dari 2 buah ban itu).
    Nanti dilihat orang oom!
    + Mana bisa! Punyaku ketutup ban yang satu! Punyamu ketutup yang satunya … beres to! Ayo nguyuh!

    Sedangkan salah satu tuturan Guntur, berupa hasil obrolannya dengan Bung Karno. Saat itu antara tahun 1967-1968 di Wisma Yaso, Bung Karno mengisahkan pengalamannya, sambil berbaring di kursi panjang dan tak jauh dari situ ada jururawat RSPAD yang bertugas menjaga kesehatan Soekarno.

    Maka Bung Karno pun bertutur kepada putranya soal Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser..
    + Suatu waktu Bapak ke Republik Persatuan Arab, dari Airport Cairo Bapak bersama rombongan langsung pergi ke penginapan … waktu itu Bapak betul-betul lelah … pokoknya Bapak hari itu mau istirahat total supaya besoknya dalam pertemuan dengan Pak Nasser Bapak benar-benar segar … Eh tidak tahunya datang Sabur ketok-ketok kamar Bapak … langsung ia Bapak semprot … Aku kan sudah bilang aku mau istirahat!
    Ada utusan Presiden Nasser … Pak.
    + Dari manaaaa? Persetaaaan!
    Utusan dari Pak Nasser.
    + Tidaak … ferrrdullliii.
    Ada utusan dari Presiden Nasser … Pak.
    + Maneh gelo! Kunaon teu ngomong ti tadi (Kamu gila, kenapa tidak omong dari tadi). Siapa utusannya? Di mana dia sekarang?
    Inii Pak, aya di pengker abdii (ada di belakang saya). Marsekal Abdul Hakim Amir … Pak.
    + Wah Sdr. Amir maafkan keadaan saya … maklumlah sudah mau tidur.
    Marsekal Amir mengambil tempat duduk dan mulai bicara. Namun pembicaraannya terlalu santun, hanya mengatakan Nasser ingin mengajak Bung Karno berinspeksi.

    Bung Karno memberikan alasan, dirinya masih terlalu lelah. Lalu mengapa acara inspeksi ini mendadak, lagi pula dirinya perlu istirahat. Marsekal Amir agak kecewa, lalu meminta kesediaan Bung Karno agar menemani Nasser inspeksi. Bung Karno pun menolak dengan halus.

    Tetapi eh soalnya adalah …
    + Soal apa lagi?
    Soalnya Presiden kami mengundang sahabat beliau, yaitu Presiden Republik Indonesia untuk menginspeksi para penari perut di seluruh pelosok kota Kairo. Dan untuk itu kami diperintahkan untuk menyampaikannya pada paduka Yang Mulia …
    + Oooh ya? Ho ho ho … Kenapa tak bilang dari tadi? Sampaikan pada Saudaraku Nasser, bahwa Soekarno dari Indonesia akan siap dalam 10 menit!

    Begitulah percakapan dan kisah bapak terhadap putranya. Bagi Guntur Soekarno, segala pengalamannya bertemu, bergaul, dan berkomunikasi dengan sang bapak-kawan-guru – Bung Karno.

    Dari buku kecil dan terbatas cetakannya, Guntur sudah berbagi pengalamannya buat orang lain. Mas Tok pun sudah berhasil menbgajak pembaca Indonesia untuk lebih mengebnal sang bapak, meski Soekarno sudah lama meninggal dunia.

    Dalam tuturan Guntur, Bung Karno benar-benar hadir sebagai bapak dan manusia Indonesia. Meski begitu, Bung Karno tetaplah Soekarno yang senang tertawa dan bergaul dengan putra-putrinya, meski harus “terpaksa” berbohong sedikit, seperti tuturan Guntur dalam tulisan berjudul Bung Karno Tarzan Indonesia, sebagai berikut:

    Rupanya ayah dan anak ini senang menonton film, terutama film Amerika Serikat. Sekali waktu (antara tahun 1957-1960), Guntur mengisahkan terjadi dialog dengan bapaknya, soal Johnny Weismuller yang memerankan Tarzan, ternyata juga juara renang Olimpiade.

    Guntur mengajak bapaknya berenang. Bung Karno tak menampik, namun mengelak apabila ditanya kapan dan di mana mau berenangnya.
    Bung Karno selalu memberikan alasan sibuk, atau tak suka lokasi kolam renangnya. Akhirnya Bung Karno menjanjikan Guntur dan anak-anak lainnya akan berenang sama-sama di kolam alam Tampaksiring Bali. Guntur dan Magawati sudah siap mengenakan pakaian renangnya. Bung Karno masih santai-santai.

    Celana berenang Bapak sudah ada? Abis Bapak mau pake apa?
    + Pakai celana kolor saja …
    Guntur dan Mega sudah berenang, Soekarno masih berkeliling kolam, melihat situasi. lalu Bung Karno mulai membuka pakaian … tinggal memakai celana dalamnya.
    Semua kegirangan dan berteriak-teriak. Setelah membasahi dirinya dengan air, Bung Karno dengan gaya Tarzan berancang-ancang terjun dan berteriak keras-keras gaya Tarzan. Lalu Bung Karno terjun ke kolam. Guntur dan Mega kegirangan.
    + Haaeeep … haeeepp … tolong Bbbapak! Och … och.
    Pak … kenapa Pak? + Ooocch! Bapak … och .. se … och … sebetulnya … och .. Bapak .. ndak … bisa … berenaaaangng!

  16. Thanks STAIRWAYtoHEAVEN thanked for this post.
    Like STAIRWAYtoHEAVEN liked this post.
  17. #11
    Tamu Baik
    Reputation
    Luna Maya's Avatar
    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    269
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    834.35
    Level
    10
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    10.38%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 200 Posts!
    Rep Power
    4

    Cara Bung Karno Berdoa

    Sorry, please register/login first to see this image


    Memasuki sidang hari ke-4, tanggal 1 Juni 1945, giliran Bung Karno menyampaikan pidato di hadapan sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia/BPUPKI) untuk menyampakan dasar-dasar negara. Di kemudian hari kita mengenal hari itu sebagai Hari Lahir Pancasila. Itulah salah satu pidato monumental Bung Karno, di antara sekian banyak pidatonya yang mengguncang dunia.

    Tahukah Anda, malam 1 Juni adalah malam paling meresahkan bagi Bung Karno. Meski dipejam-pejamkannya kedua mata, tak juga mampu mengundang kantuk. Dalam hal Indonesia merdeka, hatinya sudah bulat. Hakkul yakin. Dalam hal kemerdekaan hanya akan kekal dan abadi manakala dilandasi persatuan dan kesatuan, Bung Karno pun hakkul yakin. Meski begitu, ada perasaan yang menghendaki dorongan lebih untuk berbicara keesokan harinya.

    Gelisah itu sungguh menggantu pikirannya. Bukan tentang materi apa yang akan dipidatokan keesokan harinya. Untuk berpidato di depan BPUPKI, Bung Karno bahkan tidak perlu mempersiapkannya dalam bentuk teks tertulis. Anehnya, masih ada perasaan yang kurang mantap pada dirinya. Bung Karno terus dan terus merenungkan itu sembari membolak-balikkan tubuhnya di atas dipan.

    Ketika rasio terbentur tembok… manakala hati tak mampu lagi menyuarakan pendapatnya yang paling benar… Bung Karno hanya ingat, Tuhan-lah satu-satunya tempat ia bertanya. Hanya Tuhan yang mampu meredam kegundahgulanaan perasaan. Ia tahu apa yang harus diperbuat. Turun dari tempat tidur, dan melangkahkan kaki ke luar rumah, persisnya ke bagian belakang rumahnya di Jl. Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat.

    Di belakang rumah, ia segera menekuk lutut berlutut, menengadahkan wajah ke atas, memohon petunjuk Allah SWT. Malam itu, malam bulan Juni saat cuaca sangat cerah. Di atas, ia saksikan ribuan… ratusan ribu… mungkin jutaan bintang berkerlap dan berkerlip. Dalam posisi lutut tertekuk, muka menengadah, kedua tangan memohon… disaksikan ribuan bintang… Bung Karno menjadi seorang hamba Allah yang begitu kecil.

    “Ya Allah Ya Rabbi… berikanlah ilham kepadaku. Besok pagi aku harus berpidato mengusulkan dasar-dasar Indonesia merdeka. Pertama, benarkah keyakinanku, ya Tuhan, bahwa kemerdekaan itu harus didasarkan atas persatuan dan kesatuan bangsa? Kedua, ya Allah ya Rabbi, berikanlah petunjuk kepadaku, berikanlah ilham kepadaku, kalau ada dasar-dasar lain yang harus kukemukakan: Apakah dasar-dasar itu?”

    Itulah lantunan doa Bung Karno kepada Allah SWT sebelum keesokan paginya berpidato di hadapan sidang BPUPKI. Usai berdoa, Bung Karno pun kembali masuk ke kamar dan membaringkan kembali tubuhnya di pembaringan. Ia menenangkan pikiran dan mencoba tidur. Entah karena permohonan sudah disampaikan, atau karena ia memang sudah lelah… tak lama kantuk datang menyerang dan Bung Karno pun terlelap.

    Keesokan paginya, pagi-pagi sekali ia sudah bangun. Setelah shalat shubuh, Bung Karno pun mendapatkan ilham Pancasila. Jawaban spontan dari Tuhan atas doa yang ia lantunkan semalam.

    Kisah tersebut, acap disampaikan Bung Karno dalam kesempatan berpidato di berbagai kesempatan pasca kemerdekaan kita. Meski bukan yang pertama dan kedua, setiap Bung Karno menuturkan kegelisahan malam 1 Juni, kemudian beranjak ke belakang rumah, berlutut dan berdoa… hampir dapat dipastikan air mata pasti meleleh dari pipinya. Biasanya, Bung Karno akan berhenti berpidato sejenak dan berkat, “Maaf… kalau aku ingat ini selalu terharu….”

  18. #12
    Tamu Baik
    Reputation
    Luna Maya's Avatar
    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    269
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    834.35
    Level
    10
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    10.38%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 200 Posts!
    Rep Power
    4

    “Hajar Cecunguk Malayan itu!”

    Sorry, please register/login first to see this image


    Untuk urusan mengganyang Malaysia, memang baru Bung Karno ahlinya…. Semua dokumen yang ada di seputar tahun 1964 – 1966, pasca Bung Karno mengobarkan Dwikora (dua komando rakyat), menunjukkan bahwa satu langkah lagi, Malaysia hancur lebur oleh gempuran Indonesia yang didukung angkatan bersenjata dan para relawan. Relawan bukan saja yang datang dari rakyat Indonesia sendiri, tetapi juga dari rakyat Malaysia yang tidak sudi dengan taktik Inggris melanggengkan penjajahannya di negeri jiran itu.

    Kobaran Dwikora, diteriakkan Bung Karno pada tanggal 27 Juli 1963. Sejak itu pula, semua elemen bangsa melakukan persiapan untuk berkonfrontasi dengan Malaysia. Malaysia di sini harus kita baca sebagai boneka Inggris. Artinya, yang hendak kita lawan adalah Inggris dan semua pasukan sepersemakmuran, seperti Australia, Selandia Baru, bahkan Gurkha, pasukan dengan anggota bangsa India yang dilatih oleh Inggris.

    Pasukan Malaysia sendiri sama sekali tidak masuk dalam hitungan Bung Karno. Terlebih bahwa mereka tak lebih dari “bayi” prematur yang masih harus mencari kehangatan di balik ketiak Inggris, sang bidan yang melahirkannya melalui cara-cara licik, dan mengingkari kesepakatan Maphilindo dan PBB. Simak sebagian isi pidato Bung Karno sebagai berikut:

    Kalau kita lapar itu biasa

    Kalau kita malu itu juga biasa

    Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

    Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!

    Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

    Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

    Serukan serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini. Kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

    Bulatkan tekad

    Semangat kita badja

    Peluru kita banjak

    Njawa kita banjak

    Bila perlu satoe-satoe!


    Terbayangkah kita suasana heroik ketika itu? Siapa orangnya yang tidak terbakar hatinya. Siapa orangnya yang tidak ingin berbondong-bondong dengan semangat baja merata-tanahkan negeri boneka bernama Malaysia itu.

  19. #13
    Tamu Baik
    Reputation
    Luna Maya's Avatar
    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    269
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    834.35
    Level
    10
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    10.38%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 200 Posts!
    Rep Power
    4

    Bung Karno di Dinihari

    Jarum jam menunjuk pukul 01.30…. TVRI menayangkan siaran langsung shalat tarawih di Masjidil Haram, Mekah. Suasana hati hanyut dalam lantunan kalam Illahi yang begitu indah. Seperti biasa, saya sering iseng melayangkan tangan ke arah deretan buku-buku di bawah label “DOK BUNG KARNO”. Maksudnya jelas, saya akan menulis apa saja dari sumber buku yang saya ambil melalui tangan buta.

    Sorry, please register/login first to see this image


    Syahdan… tercabutlah satu buku berjudul “Mutiara Kata Bung Karno untuk Rakyat Indonesia” susunan Wawan Tunggul Alam, SH. Sekali lagi dengan iseng saya buka secara acak dengan jemari buta ini. Tersibaklah pagina 24, di bawah judul “Doa”, lalu ke halaman-halaman selanjutnya. Ah… kok pas benar dengan suasana dinihari ini. Saya baca beberapa halaman, dan baiklah, saya kutipkan beberapa di bawah ini.

    Kutipan 1:

    “Saya tidak tahu, akan diberi hidup oleh Tuhan sampai umur berapa. Tetapi permohonanku kepadaNya ialah, supaya hidupku itu hidup yang manfaat. Manfaat bagi tanah air dan bangsa, manfaat bagi sesama manusia. Permohonanku ini saya panjatkan pada tiap-tiap sembahyang. Sebab, Dialah Asal segala Asal. Dialah ‘Purwaning Dumadi‘.” (6 Juli 1957).

    Kutipan 2:

    “Semangat ajaran Nabi Muhammad, mengobarkan pelaksanaan tiga kerangka tujuan Revolusi Indonesia. Semangat ajarannya. Ya, itu memang benar! Semangat ajaran itu yang membawa kita kepada perjuangan. Semangat ajarannya itu yang membawa kita rela berkorban untuk mencapai maksud kita. Semangat ajaran itu yang membawa kita kepada Revolusi Indonesia. Semangat ajaran itulah yang membuat bangsa Indonesia menjadi seperti sekarang ini.” (6 Agustus 1963).

    Kutipan 3:

    “Vivekananda, orang yang beragama Hindu mengatakan, bahwa Muhammad SAW mempunyai jiwa bledek, thunderbolt, artinya bledek, petir. Jadi di dalam jiwa Muhammad itu menurut perkataan Vivekananda bersemayamlah jiwa seperti bledek. Nah, orang-orang yang demikian ini kita agungkan. Kalau kita benar-benar mengagungkan beliau, kita harus meniru kepada beliau. Maka oleh karena itu harapanku ialah agar supaya bangsa Indonesia berjiwa bledek.” (6 Agustus 1963)

    Kutipan 4:

    “Siang dan malam kegandrungan saya hanya ingin mengabdi kepada Tuhan, mengabdi kepada tanah air dan bangsa, menyumbang kepada Revolusi, menyumbang kepada pelaksanaan Amanat Penderitaan Rakyat.” (1960).

    Kutipan 5:

    “Di dalam cita-cita politikku aku ini nasionalis, di dalam cita-cita sosialku aku ini sosialis, di dalam cita-cita sukmaku aku ini sama sekali theis: Sama sekali percaya kepada Tuhan, sama sekali ingin mengabdi kepada Tuhan.” (1947).

    Lima kutipan itu dulu sebagai bahan renungan kita bersama. Semoga bisa menyiram relung-relung hati kita yang kering.

  20. Thanks STAIRWAYtoHEAVEN thanked for this post.
  21. #14
    Tamu Baik
    Reputation
    Luna Maya's Avatar
    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    269
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    834.35
    Level
    10
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    10.38%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 200 Posts!
    Rep Power
    4

    Perintah Pertama Presiden Sukarno kepada Tukang Sate

    sebelumnya aqiu mau mengucapkan terima kasih Q kepada banyak sumber berita yg aqiu kutip dan copas ke lintas cafe, antara lain portal & situs berita, juga blog terutama dari rosodaras yg sdh menginspirasi Q utk menyebarluaskan artikel inspiratif ttg Bung Karno sang Proklamator kita

    Sorry, please register/login first to see this image


    Jam menunjuk pukul 10 lebih, ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan 17 Agustus 1945. Usai upacara, Bung Karno yang sedang kumat malarianya, ngeloyor ke kamar dan merebahkan tubuhnya yang lelah. Satu kalimat sebelum ia benar-benar lelap adalah, “Revolusi sudah dimulai!”

    Setelah itu, Bung Karno benar-benar tidak mengikuti pernak-pernik kejadian kecil yang berseliweran di sekitar kediamannya. Ia tidak mengikuti detil bagaimana pemuda Adam Malik melompat pagar RRI yang dijaga tentara Jepang untuk menyerobot frekuensi radio buat mengumumkan berita kemerdekaan.

    Bung Karno tidak mengikuti kejadian ketika pembantu setianya, Riwu Ga berinisiatif keliling kota Jakarta mengibar-ngibarkan bendera merah putih dan berteriak-teriak, “Kita sudah merdekaaa… Kita sudah merdekaaa….” tanpa gentar sewaktu-waktu ia bisa dibedil tentara Jepang.

    Bung Karno bahkan tidak mengikuti peristiwa ketika sejumlah pemuda mentasbihkan kelompok “Pasukan Berani Mati” yang kemudian bersiap-siaga di Pegangsaan Timur 56, menyiapkan tubuhnya sebagai tameng hidup kalau-kalau ada yang mencoba menurunkan bendera merah putih yang sudah berkibar… kalau-kalau ada yang hendak mencelakai Bung Karno sang proklamator.

    Bung Karno benar-benar kelelahan. Lelah fisik…. Lelah pikiran…. Sakit fisik…. Hingga malam merayap menyelimuti tidurnya yang lelap. Tidak Fatma istrinya, tidak Dr Soeharto dokter pribadinya, tidak juga para elit pejuang yang berani mengusik. Begitu kejadiannya hingga fajar merekah di ufuk timur.

    Pagi itu… masih pagi sekali. Jika ada yang memperhatikan, bahkan embun masih melekat di dedaunan, ketika para tokoh berbagai golongan berkumpul di suatu tempat untuk membicarakan kelanjutan proklamasi. Hadir pemimpin golongan-golongan agama, masyarakat, suku, pedagang, dan golongan penduduk di Indonesia. Bung Karno didaulat pula hadir dalam pertemuan itu. Nah, di situlah mereka memilih Bung Karno dengan suara bulat sebagai Presiden.

    Bung Karno dalam sisa-sisa kelelahan, bahkan dalam buku biografi yang ditulis Cindy Adams, sampai-sampai tidak ingat lagi siapa yang sesungguhnya pertama kali mengusulkan Bung Karno sebagai Presiden. Bung Karno hanya ingat “seseorang” mengluarkan ucapan yang nadanya datar-datar saja, “Nah, kita sudah ber-Negara mulai dari kemarin. Dan suatu negara memerlukan seorang Presiden. Bagaimana kalau kita memilih Sukarno?”

    Begitulah keseluruhan detik-detik bersejarah pemilihan presiden RI yang pertama. Ya… sesederhana itu! Apa jawaban Bung Karno menerima usulan bulat itu? Jawaban Penyambung Lidah Rakyat Indonesia sebagai tanda terima kasih atas pengangkatan itu hanya satu kata: “Baiklah!” Hanya itu. Itulah keseluruhan kata yang keluar dari mulut Bung Karno saat dirinya diusulkan secara bulat menjadi Presiden, “Baiklah!” Bung Karno tidak membikin gempar dengan pidatonya. Yang lain juga tidak ada yang membikin gempar. Tak seorang pun membikin kegemparan. Semua dihimpit waktu. Terlalu banyak pekerjaan yang harus dihadapi oleh Republik yang baru berusia satu hari.

    Syahdan… setelah dipilih memegang jabatan tertinggi di seluruh negeri, Presiden yang baru dipilih itu pun berjalan pulang. Di jalanan, ia bertemu dengan tukang sate ayam. Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia itu pun spontan memanggil tukang sate yang berkaki-ayam alias nyeker itu. Kemudian, untuk pertama kali, Presiden mengeluarkan perintah pelaksanaan yang pertama kepada si tukang sate, “Sate ayam lima puluh tusuk!”

    Sejurus kemudian, Bung Karno pun berjongkok dekat selokan dan kotoran. Memakan lima puluh tusuk sate dengan lahapnya. Inilah seluruh pesta atas pengangkatan dirinya sebagai Kepala Negara. (roso daras)

  22. Thanks STAIRWAYtoHEAVEN thanked for this post.
    Like Alu BSD liked this post.
  23. #15
    Tamu Baik
    Reputation
    Luna Maya's Avatar
    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    269
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    834.35
    Level
    10
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    10.38%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 200 Posts!
    Rep Power
    4

    Indonesia Bukan Negara Agama

    Sorry, please register/login first to see this image


    Percayakah Anda, bahwa di sekitar kita, masih subur paham ekstrim yang menghendaki Indonesia menjadi negara Islam atau negara Komunis. Yang satu distigmakan sebagai “ekstrim kanan”, sedangkan satunya kita kenal dengan sebutan “ekstrim kiri”. Istilah ini populer di zaman rezim Orde Baru. Barang siapa yang diindikasikan sebagai “ekstrimis kanan” ataupun “ekstrimis kiri”, rezim dengan serta merta bisa mencokok mereka dan menjebloskannya ke penjara.

    Sebaliknya, Bung Karno sendiri tidak pernah menyebut mereka para ekstrimis. Mungkin karena Bung Karno sendiri seorang yang revolusioner. Pemahaman dia tentang Marxis barangkali sama baiknya dengan pemahaman dia tentang Islam. Setidaknya Bung Karno adalah tokoh pejuang yang cerdas, yang dalam hidupnya telah belajar tentang semua ajaran kiri dan kanan.

    Sikap Bung Karno cukup tegas, ia tidak mentolerir anak bangsa yang hendak mencoba-coba mendirikan negara Islam atau negara komunis di Bumi Pertiwi. Muso-Alimin dkk ditumpas saat hendak memproklamasikan negara komunis Soviet tahun 1948 di Madiun. Demikian pula Kartosoewirjo yang hendak mengibarkan bendera Negara Islam Indonesia (NII), pun diberangus. Anda tahu? Muso, Alimin, Kartosoewirjo adalah sahabat-sahabat Bung Karno saat sama-sama berguru di rumah HOS Cokroaminoto, Surabaya.

    Sekalipun begitu, Bung Karno tidak berhenti memberi pemahaman kepada rakyat Indonesia, tentang pemisahan agama dan negara. Berikut antara lain kata-kata Bung Karno yang diucapkan saat memberi materi pada kursus Pancasila tahun 1958 di Jakarta:

    “… Kita langsung terjun di dalam fase negara nasional ini. Maka oleh karena itu di dalam perdebatan saya dengan beberapa pihak, saya berkata: ‘Republik Indonesia bukan negara agama, tetapi adalah negara nasional, di dalam arti meliputi seluruh badannya natie Indonesia’.

    Dan apa yang dinamakan natie? Sebagai tadi sudah saya katakan, ialah segerombolan manusia dengan jiwa le desire d’etre ensemble, dengan jiwa, sifat, corak yang sama, hidup di atas satu wilayah yang nyata-nyata satu unit atau satu kesatuan.

    Maka, jikalau kita membantah anggapan, baik daripada pihak agama maupun dari pihak Marxis yang dangkal bahwa kita harus berdiri di atas kebangsaan dan mereka berkata tidak, pada hakikatnya ialah oleh karena ada salah paham tentang apa yang dinamakan kebangsaan. Pihak agama kadang-kadang tidak bisa mengadakan batas yang tegas antara ini adalah agama, ini adalah kenegaraan.

    Negara tidak boleh tidak harus mempunyai wilayah, agama tidak. Adakah negara tanpa wilayah? Tidak ada! Negara harus mempunyai wilayah. Syarat mutlak daripada negara yaitu teritori yang terbatas. Dan agar supaya negara kuat, maka wilayah ini harus satu unit. Dan bangsa yang hidup di dalam satu unit itu akankah menjadi bangsa yang kuat, jikalau ia mempunyai rasa kebangsaan bukan bikin-bikinan, tetapi yang timbul daripada objectieve verhoudingen.

    Agama tidak memerlukan teritorial, agama cuma mengenai manusia. Tapi lihat, orang yang beragama pun, aku beragama, engkau beragama, orang Kristen di Roma beragama, orang Kristen di negeri Belanda beragama, orang Inggris yang duduk di London beragama, pendeknya orang-orang beragama yang dalam agamanya tidak mengenal teritorial. Kalau ia memindahkan pikirannya kepada keperluan negara, ya tidak boleh tidak harus berdiri di atas teritorial, di atas wilayah. Tidak ada satu negara, meskipun negara itu dinamakan agama Islam, tanpa teritorial….:

    “… Jadi, Saudara-saudara, saya ulangi, salah paham letaknya di situ. Tidak bisa membedakan antara apa yang diartikan dengan agama, apa yang diartikan dengan negara. Itulah sebabnya maka selalu hal ini menjadi persimpangsiuran di dalam pembicaraan-pembicaraan….”

    Begitu antara lain Bung Karno mendidik rakyatnya yang senantiasa akan diombang-ambingkan akibat gempuran berbagai ideologi yang hendak dipaksakan untuk mengganti ideologi yang sudah ada. Hampir dapat dipastikan, upaya ke arah sana tidak akan pernah sirna sampai bumi ini hancur lebur. (roso daras)

    Quote Originally Posted by aqiu, luna maya, untuk semua temans
    blog rosodaras ini menulis lengkap sisi lain kehidupan Bung Karno, aqiu sbg anak bangsa yg tidak pernah mengenal sosok proklamator dg baik, bahkan namanyapun sdh jarang jarang terdengar, menjadi lebih mengenal sosok Beliau, aqiu mengharapkan jg temans semua yang dilahirkan jauh setelah bahkan putra putri Bung Karno punya anak cucu bisa mengetahui & mengenali sosok nya walau melalui tulisan cerita & mungkin cuma copas

    seperti beliau katakan jangan sampai kita melupakan sejarah, maka Bung Karno adalah sejarah

    sekali lagi terima kasih salah satunya aqiu sampaikan kepada roso daras blog, semoga temans yg ikutan membaca copas ini juga bisa sama seperti aqiu, berterima kasih atas usaha roso daras mengenalkan & mengenangkan sejarah

  24. Thanks Vale, STAIRWAYtoHEAVEN thanked for this post.
    Like Vale liked this post.
  25. #16
    Contributor
    Reputation
    STAIRWAYtoHEAVEN's Avatar
    Join Date
    May 2010
    Location
    LintasCafe | TokoKartuNama.com
    Posts
    3,334
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    8656.6
    Level
    28
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    5.34%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 1000 Posts! 500 Posts! 200 Posts!
    Rep Power
    50
    keren bgt !
    bener2 nganterin pengenalan ke BK dr sisi yg berbeda

    ada beberapa yg gw sdh tau, tp detil lbh lngkap disini
    keren
    FUCKforPEACE

  26. #17
    Go Green Manager
    Reputation
    Sudirman's Avatar
    Join Date
    May 2010
    Location
    BerAlaskan Bumi Hijau, BerAtapkan Langit Biru.
    Posts
    972
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    2316.85
    Level
    15
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    84.52%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 500 Posts! 200 Posts!
    Rep Power
    11
    Mengenal lebih dekat pribadi bapak bangsa kita.
    Hal yg tak pernah diulas dalam pendidikan Indonesia jaman Orba, seolah2 ada pembunuhan karakter Sukarno....!

  27. #18
    Tamu Mampir
    Reputation
    Gundala Petir's Avatar
    Join Date
    Jul 2010
    Location
    Never Land Indonesia
    Posts
    103
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    544.3
    Level
    8
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    34.43%
    Weekly Activity
    3.02%
    Rep Power
    3
    Mantap postingannya, Sukarno sebagai bapak bangsa adalah idola saya...!
    Sangat disayangkan adanya propaganda Orde Baru yg memojokan Sukarno tanpa adanya pengadilan, sampai sekarang siapa yg benar dan siapa yg salah masih gelap, karena adanya pengaburan sejarah oleh tiran orde baru.
    Sukarno yg tetap memegang utuh j...angan sampai terjadi perpecahan di Indonesia jelas di zolimin dan di tindas tanpa diadili siapa yg benar dan siapa yg salah.
    Yang jelas Sukarno adlah bapak pendiri bangsa yg tidak diragukan .

    Indonesia yg baru merdeka pada saat itu, gak ada salahnya lebih terbuka dengan bantuan dari saudara sendiri se Asia yaitu Cina, dari pada ke pihak sekutu., bukan berarti Indonesia memilih komunis dari pada Pancasila yg telah di rumuskan oleh Sukarno dan kawan2 sendiri.

  28. Like Alu BSD liked this post.
  29. #19
    Adventure Team Manager
    Reputation Reputation
    Alu BSD's Avatar
    Join Date
    Jun 2010
    Location
    BSD......
    Posts
    813
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    3448.35
    Level
    18
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    85.42%
    Weekly Activity
    18.1%
    Achievements 500 Posts! 200 Posts!
    Rep Power
    11
    Ini adalah kisah yang tidak pernah kita dengar... begitu bermanfaat dan membangun....
    untimatum yg pertama adalah sate ayam 50 tusuk.....
    nah klo bro dirman dipilih kira-kira.. pertama apa iya.....(( jgn-jgn segera angkat tu jorang..)))

  30. #20
    Contributor
    Reputation
    STAIRWAYtoHEAVEN's Avatar
    Join Date
    May 2010
    Location
    LintasCafe | TokoKartuNama.com
    Posts
    3,334
    Post Thanks / Like
    vBActivity - Stats
    Points
    8656.6
    Level
    28
    vBActivity - Bars
    Lv. Percent
    5.34%
    Weekly Activity
    3.02%
    Achievements 1000 Posts! 500 Posts! 200 Posts!
    Rep Power
    50
    tambahan photo sang Proklamator

    BK



    Sorry, please register/login first to see this image
    FUCKforPEACE

+ Reply to Thread
Page 1 of 2 1 2 LastLast

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts