Sedih!
Kecewa!
Geram!
Itu mungkin perasaan para bapak pendiri dan pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia melihat nasib Indonesia yang kini semakin kacau secara internal dan secara eksternal sudah enggak punya harga atau derajat sama sekali di mata dunia atau bangsa lain.
Bayangkan ini: hanya beberapa hari menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia, petugas penjaga kelautan Indonesia "ditangkap" dan "digiring" ke Johor oleh polisi laut Malaysia, dan pemerintah tidak secara tegas untuk segera mengambil tindakan yang tak kalah keras terhadap kelakuan polisi laut Malaysia tersebut. Padahal jelas-jelas petugas kita itu menjaga kedaulatan wilayah kelautan Indonesia dengan menangkap nelayan Malaysia yang mengambil ikan di wilayah kelautan Indonesia!
Semakin tampak jelas bahwa rezim pemerintahan Indonesia saat ini makin melempem, bila tidak mau dikatakan pengecut atau banci, dalam menghadapi berbagai kekacauan dan konflik internal (dalam negeri) maupun eksternal (luar negeri).
Kekacauan internal juga tampak jelas terjadi.
Kapolri mangkir dari tugas untuk melantik jenderal baru dengan alasan yang tidak jelas, bahkan membawa-bawa nama Presiden RI, dan ternyata bohong belaka. Bila Presiden kita tegas, beliau akan memanggil Kapolri dan tanya alasan pastinya, kemudian memecat Kapolri, bila perlu disiarkan langsung melalui TV nasional.
Penyelidikan dan pengusutan terhadap praktek Mafia hukum yang melibatkan Kejaksaan dan Kepolisian juga sampai sekarang enggak jelas hasilnya. Hal ini semakin memperkuat kecurigaan di masyarakat yang makin kritis dan sadar politik bahwa jangan-jangan selain dua lembaga tersebut kasus ini juga sebenarnya melibatkan lembaga tertinggi negara yaitu MPR/DPR dan Kepresidenan.
Korupsi sekarang justru makin merajalela dan mengakar semenjak kita melakukan "reformasi" tahun 1997/1998, dan terkesan tak ada penanganan serius dari penegak hukum dan negara. Hukuman seorang koruptor tak pernah lebih dari 10 tahun, bahkan secara rata-rata hanya 4 tahun. Lebih baik kita tiru saja China dalam hal penegakan hukum terhadap koruptor. Bila memang terbukti, maka dalam waktu dua minggu sang koruptor (dan kroninya, atau bahkan keluarganya) sudah dapat dipastikan lokasi makamnya di areal pemakaman khusus koruptor. Dan China kini menuai hasilnya, dari sebuah negara tertutup dan komunis, China yang sekarang justru tujuan menarik bagi para pemilik dan penanam modal. Inilah yang kemudian membangkitkan perekonomian China sehingga dijuluki "Naga Asia yang sedang menggeliat bangun".
Korupsi bukan hanya merugikan negara dalam hal keuangan, tapi merusak moral dan tatanan sosial bangsa dalam jangka panjang. Lihat saja di jajaran pegawai negeri sipil yang masih berusia 25-30 tahun, apakah mereka tidak tergoda untuk menjalankan korupsi bila ada kesempatan menghampiri? Sedangkan kesempatan untuk korupsi di Indonesia melalui berbagai lembaga pemerintahan ini sejak "reformasi" bergulir sudah dibuka selebar-lebarnya untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan segelintir orang.
Lebih baik kita kehilangan beberapa ratus ribu koruptor daripada kehilangan beberapa ratus ribu anak bangsa yang berpotensi dan berbakat dalam mengembangkan Indonesia sehingga Indonesia kembali memiliki harga diri dan martabat sebagai sebuah bangsa dan negara di dunia.
Apakah anak anda (atau anda sendiri) hafal Pancasila? Bila tidak, ajarkanlah dia untuk menghafal Pancasila, karena Pancasila adalah ideologi penyatu bangsa kita yang majemuk seperti es campur ini. Pancasila justru membuat kita menghargai kemanusiaan tanpa memandang agama dan ras seseorang. Pancasila justru membuat kita merdeka dan nasionalis seutuhnya, tidak lagi terbelenggu dengan sentimen nasionalisme yang berbau ras atau agama, yang akhir-akhir ini banyak dimanfaatkan oleh berbagai pihak terutama di setiap Pemilu.
Para Bapak Bangsa dulu membuat Pancasila karena melihat kemajemukan bangsa Indonesia ini tidak dapat disatukan atas dasar agama atau ras atau kesukuan. Dan kita lihat saja apa yang sekarang terjadi. Sentimen berbau agama, ras, dan kesukuan menguat kembali. Bahkan banyak daerah yang mengeluarkan perda berbau agama tertentu dengan alasan yang masih berkaitan dengan agama tertentu tersebut.
Jadi, bila kita sekarang berani berkata bahwa kita sudah "merdeka" selama 65 tahun, dimanakah kemerdekaan itu? Yang justru banyak terjadi sekarang adalah begitu banyak kesewenang-wenangan sebuah kelompok tertentu terhadap kelompok lainnya.
Kecuali bila anda mengartikan merdeka sebagai berikut:
- merdeka untuk berkorupsi sebesar-besarnya
- merdeka untuk memaksa orang lain agar menghormati agama tertentu dengan cara mulai dari halus (surat imbauan misalnya) sampai kasar dan tak beradab (sweeping misalnya)
Bila anda mengartikan kemerdekaan seperti itu, maka saya ucapkan "Selamat Merayakan Hari Peringatan Kemerdekaan" bagi anda!
Bookmarks