oleh ST SULARTO, Kompas 10 Agustus 2010
Menyaksikan praksis kehidupan bernegara dan berbangsa Indonesia akhir-akhir ini, potensi kemungkinan Indonesia menjadi "negara gagal" semakin besar. Mengacu pada pernyataan Francis Fukuyama, ancaman terbesar abad ke-21 adalah "negara gagal", ditandai antara lain kemiskinan, pengangguran, konflik antarkelompok, dan merebaknya aksi teror.
Untuk kasus aktual Indonesia, pernyataan Fukuyama lima tahun lewat itu terlihat dalam kasus-kasus pembiaran rakyat menyelesaikan sendiri masalah-masalah yang membelitnya, seperti kenaikan tarif listrik, kemiskinan, gas meledak, perilaku koruptif, dan tereduksinya keluhuran politik jadi sekedar politik praktis berdurasi pendek, kerdil, dan bernuansa sempit.
Kekerasan yang merebak dalam berbagai bentuk terjadi semakin sporadis dengan tingkat semakin masif, dari yang fisik hingga simbolis, mengindikasikan berkembang suburnya sisi kekerdilan manusia; cara berpikir dan bertindak atas nama ideologi agama, tapi sebenarnya membenarkan doktrin sempit agama: menegaskan entakan Fukuyama semakin mengancam. Meskipun kita boleh menghibur diri, potensi "negara gagal" perlu dihadapi, tidak dengan menafikan, tetapi meletakkannya sebagai kemungkinan yang menantang untuk kritis dan mencegahnya.
Itu karena yang kita hadapi tidak hanya krisis identitas, tapi juga krisis intelektual dan hati nurani (ahlak dan moral) yang mencerminkin krisis karakter bangsa (Soemarno Soemarsono, Karakter Mengantar Bangsa dari Gelap Menuju Terang, PT Elex Komputindo, 2009). Karena pembangunan karakter diabaikan, kondisi bangsa Indonesia sekarang ibarat "gunung es", kelihatan gagah perkasa, tapi jiwa atau fondasinya rapuh.
Kondisi Indonesia saat ini, menurut Soemarno, serupa yang dikhawatirkan Mahatma Gandhi tentang tujuh dosa yang mematikan. Meliputi: berkembangnya nilai dan perilaku budaya kekayaan tanpa bekerja, kekayaan tanpa nurani, pengetahuan tanpa karakter, bisnis tanpa moralitas, ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, agama tanpa pengorbanan.






Reply With Quote
Bookmarks