


Sorry, please register/login first to see this image
Pembangunan patung naga di salah satu persimpangan jalan tengah Kota Singkawang, dan beberapa hari terakhir dipermasalahan oleh beberapa pihak dengan berpolemik di koran tidak perlu diperbesar-besarkan. Demikian diungkapakan Simon Takdir, selaku Kepala Adat Dayak Benua Garantukng Sakawokng Kecamatan Singkawang Timur dan Selatan, saat ditemui di kediamannya, Senin (1/12) kemarin.
Naga, atau dalam bahasa Dayak yang di sebut Nabo merupakan nama hewan yang terdapat dalam cerita, mitos dari semua etnis dan bangsa di dunia. Kaberdaan naga di kosmos juga bermacam ragam. Kemudian naga bukanlah binatang yang sakral, namun melainkan bersifat universal.
“Karena naga itu universal, maka naga itu bukan saja milik satu etnis atau bangsa tertentu,” kata Simon memperjelas.
Kata Simon, dalam cerita suku Dayak Nek Jahi dalam menyelesaikan misinya di pulau jawa dibantu putri naga. Secara antropologius, situasi ini merupakan simbol dimana salah satu unsur alam, yakni bintang sangat dekat dan bersahabat dengan manusia. Tidak heran bila lukisan dan ukiran binatang itu mengihiasi rumah-rumah, pakaian, aksesoris suku Dayak.
“Binatang ini menjadi ornament dalam kesenian suku Dayak. Demikian juga dalam kehidupan etnis dan bangsa lain,” kata Simon.
Menurut Ahli Antropologi ini, sungguh suatu kekeliruan jika ada pendapat yang mengatakan ornamen naga itu milik sebuah etnis tertentu, seperti yang terjadi dalam polemik pembangunan tugu dengan aksesoris naga di Kota Singkawang.
“Suku Tiong Hoa Singkawang, tidak pernah mengklaim bahwa naga adalah ciri budaya mereka. Klaim yang keliru itu hanya datang dari orang yang tidak mengerti akan keberadaan mitos naga tersebut,” terang Simon.
Simon menilai, pembangunan naga pada persimpangan itu hanya sebagai ornament, dengan maksud untuk memperindah kota Singkawang. Bangunan itu merupakan sebuah aksesoris untuk menambah keunikan di Kota Singkawang, sehingga memiliki daya tarik tersendiri.
“Sebagai kota nasional, pembangunan tugu berornamen naga itu tidak perlu dipermasalahkan, baik dari segi lokasi maupun seni dan religi. Walaupun sekiranya ornamen naga itu hanya milik etnis tertentu saja, keberadaannya harus kita terima karena justru memperkaya budaya kita serta menujukkan kehidupan multikultural Kota Singkawang,” jelas Simon seraya menganjurkan agar masyarakat Kota Singkawang berterimakasih dan mendukung donatur kelahiran Kota Singkawang, yang masih cinta dan memperhatikan kotanya.
Karena ornamen naga itu tidak perlu dibesar-besarkan, Simon megajak semua pihak untuk berfikir matang dan dewasa agar pembangunan tugu denga ornamen naga itu tetap dilanjutkan dan didukung bersama. Tujuannya untuk kemajuan dan keindahan Kota Singkawang itu sendiri. Kalaupun ada permasalahan, sebaiknya dipilih penyelesaian di atas menja bersama pemerintah melalui dialog atau seminar.
“Sampaikan dengan kata-kata yang santun dan beradat, bukan melaluai jalan kekerasan atau konflik yang disertai dengan kata-kata yang tidak baik,” harap Simon.Sorry, please register/login first to see this image
Tiba2 dihadang sama PHH
Massa dan FPI dibatasi PHH.Sorry, please register/login first to see this image
Nih massa yang mau dilawanSorry, please register/login first to see this image
Gimana nih menurut Anda? Mendukung atau menentang?



SINGKAWANG—Pembangunan Patung Naga Kota Singkawang, Jumat (5/11), menyedot perhatian warga Kota Singkawang. Sejumlah besar massapun akhirnya mendatangi dan "mengepung" Patung Naga setengah jadi itu dari berbagai sudut. Massa berbondong-bondong mendatangi Patung Naga hanya untuk melihat dan menonton aksi yang bakal terjadi di lokasi tersebut. Pasalnya, ada rencana dari FPI, FPM dan Aliansi LSM hendak merobohkan patung naga di Jalan Kempol Mahmud – Jalan Niaga. Namun harapan massa untuk melihat rencana itu tidak kesampaian, demikian juga rencana merobohkan patung naga tersebut. Niat merobohkan patung naga itu berhasil diredam oleh aparat kepolisian.
Pagi hari sebelum masuk waktu salat Jumat, suasana di lokasi patung naga setengah jadi itu berdiri tampak lengang. Tidak ada lagi para pekerja yang melakukan tugasnya meneruskan pembanguan patung yang menuai polemik ini. Arus lalu lintas masih tampak tenang. Di empat sudut jalan, toko-toko masih buka. Kendati demikian, isu perobohan patung naga yang disumbang oleh seorang pengusaha kepada pemerintahan Kota Singkawang ini, ternyata sudah sampai ke telinga warga sekitar. Apalagi, kabar itu tersiar melalui media cetak yang ada di Singkawang, sehingga meluas ke masyarakat lainnya.
"Saya tahu dari koran, katanya patung naga ini mau dirobohkan hari ini (kemarin)," kata Rina kepada Pontianak Post kemarin. Lalu kepolisian pun tak tinggal diam. Sejak pagi, mereka sudah mondar-mandir di sekitar lokasi. Beberapa diantaranya mengenakan pakaian sipil. Puncak tumpahnya massa ke jalanan terjadi, setelah selesai salat Jumat.
Sejumlah besar massa sudah berkumpul di sekitar patung. Baik yang datang dengan menggunakan kendaraan bermotor, sepeda maupun jalan kaki. Bercampur baur mulai anak-anak, orang dewasa, wanita maupun pria. Mereka pun seolah tidak memperdulikan efek negatif jika terjadi gesekan, malah massa semakin antusias. Kerumunan massa yang semakin membludak, membuat pihak kepolisian pun tampak sibuk."Tadi saya lihat (mereka) sudah berkumpul di Masjd Raya," kata warga yang ingin melihat langsung dirobohkannya patung naga setengah jadi itu. Kemudian, sekitar pukul 13.15 WIB, pawai kendaraan roda dua dan satu unit mobil, muncul memasuki Jalan Sejahtera. Dengan pengeras suara mereka melakukan orasi di jalan. Ternyata itu adalah massa FPI, FPM dan Aliansi LSM.
Mereka berjalan menuju patung naga. Namun, sebelum memasuki tikungan terakhir menuju lokasi patung, Satuan Brimob dengan tameng melakukan barikade. Massa tak bisa masuk. Mereka hanya melakukan orasi. Dalam orasinya, mereka menyebut aksi yang dilakukan ini bersifat damai, dan tidak akan berbuat anarkis. "Selama ini kita hidup harmonis, rukun antar sesama suku dan agama apapun di Singkawang. Tapi kehadiran patung naga ini telah mengusik kerukunan kita," teriak ketua DPW FPI Kota Singkawang Yudha R Hand di atas kendaraan pick up .
Sontak saja, kerumunan massa yang menonton semakin mendekat. Toko-toko di sekitar lokasi tutup. Setelah lama berorasi, kepolisian kemudian melakukan negosiasi dengan perwakilan dari massa. Setelah negosiasi secara damai dilakukan, disepakati keputusan akhir setelah adanya hasil pertemuan di Pemerintahan Kota Singkawang, antara pihak pemkot, kepolisian dan perwakilan massa. Massa pun menyetujui. Lalu mereka dengan tenang melakukan orasi. Di sekitar patung naga, polisi terus berjaga-jaga. Ramainya massa yang tumpah ke jalanan, membuat kepolisian meminta mereka mundur. "Bagi yang tidak ada kepentingan bubar," kata seorang anggota polisi berteriak.
Tapi, massa penonton tidak perduli. Baru saja diingatkan mereka kembali lagi. Lama berada di lokasi, sementara hasil pertemuan belum juga didapatkan, massa pun kemudian menuju pemkot Pontianak. Perlahan-lahan massa yang menonton juga meninggalkan lokasi dengan tertib. Yang tertinggal hanyalah sampah sisa gelas air mineral yang merusak pemandangan kota peraih adipura ini.
Terhenti
Lebih dari dua jam aktifitas ekonomi masyarakat di sekitar lokasi patung naga terhenti. Pemilik toko, lebih memilih menutup tempatnya berjualan, karena khawatir resiko yang tidak diinginkan. "Bagaimana mau buka, kalau ada apa-apa siapa yang mau tanggung," kata salah seorang yang berada di sebuah toko.
"Saya mau beli bahan bangunan kesini tapi sudah tutup," kata seorang pria kepada
Pontianak Post.
Mereka lebih banyak menyaksikan dari lantai dua ruko mereka. Terlebih, dari kerumunan massa, banyak yang mengabadikan momen ini dengan handphone, kamera bahkan handycam.
Di sekitar lokasi, banyak terdapat counter handphone, warung kopi, hotel, toko elektronik dan toko bangunan serta toko pakaian, yang tidak bisa berdagang sementara.
Sekitar pukul 16.00 WIB, kondisi jalan kembali normal. Polisi pun terlihat masih berjaga-jaga. Hingga berita ini diturunkan, aparat keamanan masih terus memantau situasi di lokasi. (ody/zrf)



mau nyari mati kali itu orang2...lom tau rasanya dibantai suku *****
There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)
Bookmarks